Sen. Jul 6th, 2020

Mempertanyakan Pakem Seni Tradisonal Hari Ini

3 min read

Dewasa ini dalam lingkup yang lebih urban, tradisi menjadi sesuatu yang adiluhung dan menjadi sebuah penghormatan. Aturan yang mengikat pada tradisi yang kemudian kita kenal dengan istilah pakem menjadi sesuatu yang sampai sekarang masih utuh dijaga dengan kebanggan. Pakem mengikat persoalan teknis dan non teknis dalam sebuah budaya. Pakem seni tradisional hanya boleh diganggu dengan konteks rekonstruksi, dan sangat dihindari dari upaya dekonstruksi. Sehingga pakem selalu bersifat stagnan. Padahal pakem seharusnya mampu berdiri di hadapan setiap zaman.

Pada kenyataan di lapangan, pakem tidak juga begitu kuat sebagai sebuah tumpuan. Banyak ditemukan upaya-upaya membaca kembali dan membentuk sesuatu yang baru dari dasar pakem tersebut. Konteks seperti kemudian disebut kreatifitas manusia. Konteks pakem seperti ini juga sebenarnya agak bertolak belakang dengan anggapan bahwa budaya selalu melakukan gerakan dinamis dalam upaya menyambut masa tertentu.

Baca Juga :   Tampil Atraktif, Warriors of Panting Ajak Lestarikan Kesenian Tradisional

Albert Camus dengan gamblang menjelaskan bahwa kreatifitas sebenarnya adalah upaya pemberontakan yang dilakuan oleh manusia dari tatanaan lama menuju tatanan baru. Keinginan mencapai sebuah tatanan baru ini adalah sebuah gerakan yang terjadi tidak hanya pada masyarakat urban yang modern namun juga terjadi pada masyarakat tradisional yang memegang kuat pakem.

Lalu apa sebenarnya pakem ini? Apakah dia hanya sebuah tameng dalam konstruksi pelestarian atau sebagai senajata untuk mematahkan sebuah gerakan kebaruan dari sebuah kelompok atau individu? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tentu saja sering muncul dalam forum-forum formal dan non formal. Namun pada kenyataannya pula sampai sekarang perdebatan ini tidak terselesaikan dan menggantung pada kerangka yang paradoksial bagi kedua sisi.

Tumbuh kembang sebuah kebudayaan sangat bergantung dari bagaimana cara memaknai pakem itu sendiri. Jika pakem dimaknai sebagai sebuah pemberhentian maka kepragmatisan akan menyelimuti budaya tersebut. Dalam ruang kesenian akan tambah parah tentunya karena penyikapan terhadap karya-kaya seni akhirnya akan begitu banyak aturan, tanpa ada upaya melakukan gerakan pembaharuan yang membuat sebuah karya seni tidak semata-mata sebagai hiburan. Karya seni diharapkan mampu memberikan sebuah ruang kontemplasi agar mampu memberikan dampak yang kuat terhadap ekosistem kehidupan manusia.

Baca Juga :   Juriat Barikin dari Sanggar Ading Bastari Meriahkan Malam Seni Budaya Banua

Karya-karya seni yang menjadikan pakem sebagai sesuatu yang esensial tentu akan sama kuatnya dengan karya seni yang berlutut pada aturan pakem. Sebenarnya persoalan ini tidak hanya terjadi pada ruang karya seni sekarang, namun ini sudah terjadi sejak adanya seni keraton dan seni kerakyatan. Seni kerakyatan dengan segala kebebasannya memberikan warna yang baru terhadap karya-karya seni. Sedangkan karya seni keraton hadir sebagai sebuah kekuatan ritus dan klasik yang hanya dinikmati oleh lingkungan keraton itu sendiri.

Seiring berjalannya waktu, dengan keraton yang mulai kehilangan legitimasinya di masyarakat. Di Banjar saja misalnya akhirnya klaim akan keadiluhungan pakem berada pada wilayah masyarakat, bukan lagi berada pada wilayah keraton. Kemudian jadi persoalan adalah jiwa masyarakat yang cederung pluktuatif dan ekspresif akan membuat pakem itu sendiri selalu mengalami pergeseran-pergeseran secara implisit maupun eksplisit.

Baca Juga :   50 Lebih Kelompok Tari Dipastikan Meriahkan HTD Kalsel 2019

Pada kenyataan nya siapa yang benar-benar memegang teguh pakem seakarang ini menjadi sebuah pertanyaan yang paling kuat. Atau jangan-jangan pakem hanya sebuah kata yang dijadikan senjata sebagai legitamasi kekuatan sekelompok orang atau individu dalam konteks budaya dan seni. Penting kiranya persoalan ini menjadi bahan diskusi kita bersama sebagai sebuah platform untuk melihat siapa kita hari ini.

Banjarbaru, 25 Juni 2018.

Novyandi Saputra, S.Pd, M.Sn

Direktur NSA Project Movement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.