Menakar Bisnis Clothing sebagai Industri Kreatif di Kalsel

995

KabarKalimantan, Banjarbaru – Sebagai bisnis di bidang fashion, distro (distribution outlet) belum pernah terdengar merosot, atau meredup. Bahkan selalu mengalami peningkatan setiap tahun.

Jika dilihat perkembangannya di Banua, dalam satu kabupaten/kota saja, terdapat lebih dari 10-20 kounter distro yang mewadahi sejumlah brand baik lokal mau pun merk yang didominasi produk Bandung.

Jika dihitung di seluruh kabupaten/kota di Kalsel, tentu lebih dari 100 orang yang terlibat dalam bisnis ini. Bisa sebagai pemilik, investor, konsultan manajemen, pemasaran, hingga penjaga toko.

Bahkan dalam satu tahun, ada saja event yang menggelar bazar clothing sebagai pasar belanja hiburan tersendiri bagi penggemar fashion atau anak muda yang senada dengan hobi mereka seperti skate dan music.

“Kita sebagai pengamat, peminat kaos distro itu banyak sekali, didominasi para anak muda. Karena selalu ingin tampil beda. Inilah mengapa bisnis distro selalu hidup,” ujar Hardian salah seorang pengamat fashion di Banjarbaru, Rabu (27/3/2019).

Baca Juga :   Cuaca Ekstrem, Harga Ayam Potong Naik

Menurutnya, menjual jenis pakaian jadi dengan beberapa model dan desain terkini menjadi peluang serta investasi yang cukup menjanjikan. Anak muda sekarang bilangnya “worht it”.

“Ini investasi menjanjikan, tidak sedikit pula dilirik para pengusaha. Tak terkecuali mereka para anak muda kadang punya idealisme dalam berkarya. Bisnis ini dimulai saat keterbatasan dana para seniman dan minimnya pemasaran, kemudian para anak muda ini berbisnis fashion dengan membuka toko, inilah yang kemudian disebut distro,” jelasnya.

Distro, sebagai toko fashion (fisik) masih tumbuh dan menjadi titipan produk dari berbagai macam merek clothing lokal. Tak hanya menerima titipan dengan sistem konsinyasi kepada pemilik brand, kadang juga mereka memproduksi sendiri pakaiannya, lalu memberi label sendiri.

“Yang paling banyak ditemui di lapangan adalah konsinyasi, yaitu pihak distro menerima beberapa persen keuntungan dari produk clothing lokal yang terjual. Besarnya pembagian keuntungan tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak,” bebernya.

Baca Juga :   Pelindo Buka Kesempatan untuk Jadi Mitra Binaan

Tak hanya distro, ada pula di antara mereka yang fokus untuk memproduksi pakaian jadi, umumnya berupa kaos oblong atau polos. Kalangan pemilik brand biasa menyebut mereka dengan vendor/konveksi. Di lain pihak, ada lagi beberapa orang yang disebut dengan desain grafis atau ilustrator.

“Kalau bisa menyatukan elemen ini, tentu menjadi simbiosis mutualisme. Mereka yang senang sekali menggambar ilustrasi manual kemudian melewati tahapan olah digital oleh desain grafis. Lalu beberapa vendor terpercaya akan mulai memproduksi kaosnya beserta dengan sablon. Pakain jadi akan diberi label dan didistribusikan ke distro yang siap menerima. Jadilah clothing dengan merek lokal,” jelasnya.

Yang menarik, masing-masing clothing merek lokal kadang mempunyai tema, atau karakter dan ciri khas tersendiri dan membedakan dengan merek lainnya. Yang lebih mengungtungkan lagi, hampir semua jenis yang mereka desain sangat terbatas, karena diproduksi tidak banyak dalam satu desain saja.

Baca Juga :   Kasus Korupsi Retribusi Parkir Landasan Ulin Sudah Dipersidangkan

“Yang kita temui tak sedikit juga, ada clothing merk lokal yang tiba-tiba muncul, tanpa memiliki ciri khas, kemudian tenggelam begitu saja. Tersebab, memiliki ciri khas atau karakter desain yang kuat, clothing merek lokal membutuhkan proses yang panjang dan eksperimen yang terus-menerus tanpa henti. Mesti konsistensi,” tegasnya.

Reporter: Ananda

Editor: Suhaimi HIdayat

Penanggungjawab: M Ridha

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here