Mengenal Biji Kopi Lokal hingga Mesin Giling yang Dipakai

1567

KabarKalimantan, Banjarbaru – Sebelum kita melangkah kepada para penikmat kopi yang addict, banyak poin-poin dapur yang mesti dipersiapkan. Semisal rasa buah kopi yang dipengaruhi oleh Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL).

Berdasarkan penelitian, semakin tinggi buah kopi ditanam di tanahnya, maka rasanya semakin mendekat ke arah buah, semakin rendah maka akan semakin asam, hingga semakin pahit. Itulah mengapa biji kopi selalu diberi pengenal atau mark seperti nama-nama wilayah panennya. Bisa itu Sumatera, Aceh, Palembang, atau yang paling proximity di Pengaron.

Mahmud salah satu pendata biji kopi lokal mengatakan, di Kalsel, banyak sekali kebun kopi yang terus berkembang bahkan semakin luas setiap tahunnya. Bahkan banyak sekali nama-namanya, ada di Takisung, Asam-asam, Tanjung, dan beberapa titik lainnya di Kalsel. Hanya saja, kurang populer. Tidak sepopuler biji dari luar Kalsel yang justru mengepansi pasar coffe shop di Kalsel.

“Angka pembelian biji kopi semakin hari semakin meningkat karena penikmatnya tidak hanya orang dewasa. Tetapi juga anak muda. Ya habit itu juga didorong karena trend itu tadi,” ungkapnya.

Setelahnya, barulah pasca panen masuk ke langkah roasting. Roasting atau pemanggangan biji kopi pun bermacam-macam. Ada yang masih menggunakan alat traditional, ada yang sudah modern dengan alat yang canggih.

“Nah, kedai kopi lokal kita pun terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Ada mereka yang mengutamakan konsep yang looks. Mewah. Untuk dapur mereka terima suplai dari beberapa rumah roasting yang telah siap dalam kemasan semisal 200 gram, 500 gram, bervariatiflah. Ada lagi kedai kopi yang meunyai alat roasting sendiri. Mereka beli/panen berkarung-karung dari kebun kopi, diroasting sendiri, di jual di kedai kopi mereka,” katanya.

Yang terbaik, lanjut Mahmud, ada pemilik kedai kopi lokal yang justru menguasai jalur dari hulu ke hilirnya. Ia punya kebun sekian hektare untuk tanam/panen biji kopinya. Punya alat roasting dalam skala besar, lantas dibuat di kedai kopinya dan dibeli oleh para konsumen.

“Banyak hal yang dihubungkan dalam bisnis kopi. Ini belum termasuk warung yang justru sediain air panas saja untuk kopi sobek. Di coffe shop di era sekarang, mesing giling dan preso bisa menaikkan gengsi dan kualitas. Tentu harga pun bisa naik. Bukan semata-mata karena gengsi, tapi juga rasa yang berbeda. Nanti juga berkaitan langsung dengan si barista, bagaimana dia mampu meracik dan menemukan menu yang tidak kopi melulu. Tetapi juga melahirkan berbagai varian rasa yang bermula dari biji kopi kita,” pungkasnya.

Reporter: Ananda

Editor: Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab: M Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here