Jum. Feb 28th, 2020

Mengenalkan Lamut Lewat Sendratari

2 min read

KabarKalimantan, Banjarmasin – Balamut berpotensi besar untuk punah. Seni tutur yang menyimpan kekayaan sastra Banjar ini akan semakin ditinggalkan masyarakat jika tidak dikemas dengan apik.

 

Rekaman suara Gusti Jamhar Akbar dengan gendangnya yang khas meruang dalam Gedung Sultan Suriansyah pada Sabtu (1/2/2020) malam. Kisah Lamut yang ia tuturkan terwujud lewat gerak tari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin.

 

Gusti Jamhar Akbar sendiri bisa dikatakan adalah penutur Lamut terakhir yang masih bisa ditemui. Dalam usia yang jauh dari kata muda, ia masih bisa memukul gendang sekaligus berdendang membawakan kisah-kisah khas lamut.

 

Sayangnya penampilan Gusti Jamhar Akbar malam itu hanya diwakili dengan rekaman suara dan sedikit gambar. Pada pertunkukkan malam itu, ia hadir dan menerima penghargaan.

 

Jika dibanding dengan jenis seni sastra lainnya, kesenian Balamut tergolong khas. Kisahnya disampaikan dengan tutur syair diiringi pukulan gendang. Karakter Lamut yang mirip dengan punakawan dalam wayang kulit sebagai titik sentralnya. Sebutan untuk kesenian ini pun merujuk pada karakter tersebut.

Baca Juga :   Caronong Samudera di Gedung Sultan Suriansyah

 

Meski demikian, ada banyak episode kisah dalam tradisi Balamut. Biasanya digelar dalam satu malam suntuk untuk setiap kisahnya.

 

Masuknya beragam teknologi hiburan tentunya sangat mempengaruhi eksistensi kesenian Balamut. Dengan bentuknya yang utuh, masyarakat perlahan meninggalkan Balamut. Belum lagi, regenerasi bagi penutur lamut sangat minim sekali.

 

Lewat pergelaran tahunan Program Studi Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin itu, kesenian Balamut mendapat apresiasi. Meski tak utuh sebagaimana seaslinya, setidaknya keberadaan kesenian ini bisa disadari lagi oleh masyarakat.

 

“Tujuan kami adalah untuk mengenalkan kisah Lamut pada generasi sekarang,” ucap Kepala Program Studi Pendidikan Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin Suwarjia yang sekaligus menjadi sutradara pergelaran tersebut.

 

Pergelaran Sendratari bertajuk Maurak Maandung Lamut Bujang Maluala tersebut mengambil salah satu episode dalam kisah Lamut yang banyak dan panjang. Penari memberikan gambaran kisah lamut yang selama ini cuma bisa didengarkan. Itu pun jarang.

Baca Juga :   Lamut? Pelajar Dibuat Penasaran

 

Kisah yang diangkat adalah episode kelahiran karakter Bujang Maluala. Kelahiran karakter itu diwarnai haru dan penuh intrik. Cinta kasih orang tua pada anak itu membuat penonton tersentuh.

 

Meski demikian, rekaman syair Lamut dari Gusti Jamhar Akbar yang digabung dengan musik ilustrasi lainnya tak bisa ditangkap secara utuh. Akustik Gedung Sultan Suriansyah masih belum memberi kenyamanan bagi pergelaran serupa. Cerita pun jadinya agak sulit dimengerti.

 

Reporter : M Ali Nafiah Noor

Editor : Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab : M Ridha

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.