Mengenang Sang Bohemian Gt Sholihin Hasan

1464

KabarKalimantan, Banjarmasin – Gaya Hidup bohemian membuat hidupnya singkat. Meski demikian, kiprahnya bagi Banua tidak bisa disepelekan. Sayang jika semangatnya dilupakan.

Bagi para pegiat seni rupa di Kalimantan Selatan, nama Sholihin sudah tidak asing lagi. Nama itu abadi dalam kiprah satu-satunya sanggar seni rupa yang bermarkas di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

Selain itu, ada satu ruangan khusus di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Semua isinya adalah karya Gt Sholihin Hasan. Jumlahnya tidak kurang dari 64 buah lukisan ditambah sejumlah patung.

Lantas, mengapa Gt Sholihin Hidayat mendapat keistimewaan juga bagi Museum Lambung Mangkurat? Putera asli Kalimantan Selatan yang hidup pada 1925-1961 ini punya kiprah yang tak bisa dianggap enteng meski masa hidupnya sedikit, hanya 35 tahun.

Gt Sholihin Hasan adalah satu di antara seniman Indonesia yang berangkat ke Sao Paulo Brazil untuk membawa karya seni bangsa pada masa-masa awal republik ini berdiri. Ia ke sana bersama sejumlah pelukis kondang nasional lainnya, sebut saja Affandi dan Kusnadi.

Baca Juga :   Sirajul Huda Wafat

Lukisan Sholihin rupanya tidak kalah dengan karya seniman seangkatannya itu. Kurator Museum Lambung Mangkurat Darmanto mengaku pernah bertemu seorang kolektor dari Amerika yang mencari jejak karya seniman Banua itu. Darmanto mendapat amanat untuk menjaga aset tersebut.

“Saya juga dibekali cara menilai lukisan, goresan kuas Sholihin dengan gaya impresionisnya memang khas dan dalam,” katanya saat menghadiri acara Mengenang 58 Tahun Meninggalnya Pelukis Gt Sholihin Hasan di Bengkel Seni Lukis Sholihin Taman Budaya Kalsel Banjarmasin, Jum’at (15/2) malam.

Menurut Darmanto, Sholihin mewakili zamannya sebagai pelukis Banua yang berpengaruh di mancanegara. Bahkan, prestasi itu belum ada yang menandingi hingga sampai saat ini.

Nama Sholihin memang tidak sebesar kawan seperjuangannya. Di tanah kelahirannya, Sholihin padahal meninggalkan jasa besar. Ia pun dianggap pelopor perkembangan seni rupa di Kalimantan Selatan.

Sebelum kembali melanglang buana, Sholihin sempat mendirikan Tunas Pelukis Muda (TPM) di Banjarmasin. Kelompok itu diisi Misbah Tamrin, A Thaberani, dan Rusdi Prayitno. Semangatnya pun berlanjut pada anak didiknya itu.

Baca Juga :   Bekas Bangunan Pemprov Kalsel Dihargai Hampir Rp 3 Miliar

Misbah Tamrin yang menjadi pemantik diskusi dalam acara itu mengungkapkan, hidup Sholihin banyak dihabiskan dalam kehidupan Bohemian. Berpindah-pindah tempat untuk kenyamanan berkarya pun ditempuh Sholihin. Sampai-sampai kondisi kesehatan seolah tak penting lagi baginya. Ia pun menghembuskan nafas terakhir pada 15 Februari 1961 saat berada Bali.
Itu juga yang menurut Misbah Tamrin membuat popularitas Sholihin meredup.

“Andai hidupnya lebih panjang, karyanya mungkin akan lebih dikenal luas,” ujar Misbah Tamrin.

Kisah hidup Sholihin yang singkat mengandung makna yang penting. Itu juga bagi Misbah Tamrin yang perlu menjadi pembelajaran bersama untuk para penerus semangatnya.

“Apakah harus selalu seorang seniman perupa dengan kebebasan liberal kehidupan bohemiannya, tenggelam dalam totalitas kesenimanannya,” ucap pelukis senior Banua tersebut.

Sebagai moderator, YS Agus Suseno berpendapat lain. Apresiasi terhadap sebuah karya seni adalah hal yang paling penting. Ia mencontohkan, seperti halnya penyair Chairil Anwar yang hidupnya bahkan lebih singkat dari Sholihin.

Baca Juga :   Pemprov Kalsel Tambah Penghargaan Nasional

“Popularitas Chairil Anwar tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan HB Yasin,” ujarnya.

Sayangnya hal itu belum berlaku di Kalsel hingga kini. Pameran lukisan yang kerap dilakukan para seniman Banua dengan swadaya masih minim apresiasi. Wajarlah bila putera daerah yang menggeluti kesenian perlu meninggalkan tanah kelahirannya untuk mewujudkan mimpi yang didambakan.

M Ali Nafiah Noor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here