Menggerakkan Kebudayaan Lewat Seni

843

NSA Project mulai menyusun wacana baru. Ingin gerakan budaya lewat kerja seni yang lebih nyata. Mereka mengubah nama menjadi ‘NSA Project Movement.’

Wartawan: M Ali Nafiah Noor

KELOMPOK musik eksperimental yang digagas Noviyandi Saputra nyaris selalu membawakan wacana-wacana baru. Lewat seni pertunjukkan musik, sejak didirikan 15 September 2015 lalu, beberapa kegiatan seni mereka sudah membunmi. Kehadiran mereka menjadi saksi warna baru dalam dunia musik di Kalimantan Selatan.
Setelah tampil perdana di Festival Taman Sari di Yogyakarta pada 2015 silam, setahun kemudian kelompok yang bermarkas di Banjarbaru ini mengubah gaya bermusik. Ke Banua di sebuah pergelaran musik di Taman Budaya Kalsel, mereka membawakan eksperimentasi musikal dari instrumen musik Banjar.
Sejumlah alat musik tradisional Banjar dimainkan dengan cara yang berbeda. Novyandi menjelaskan, NSA Project menggunakan musik sebagai pintu masuk, sekaligus pintu keluar untuk mempelajari, menginterpretasi, mengeksplorasi, lalu, merepresentasikan kebudayaan suatu masyarakat. Tak heran, musik mereka terdengar sedikit asing karena diproses melalui riset.
“Musik-musik komposisi yang digarap NSA Project lebih kepada bentuk-bentuk eksperimentasi musikal sebagai usaha membaca musik lokal agar sejajar dengan musik dunia lainnya,” terang Novyandi. NSA Project juga telah ikut meramaikan beberapa panggung seni untuk memperkenalkan gaya bermusik mereka.
Misalnya, saat Temu Teater Mahasiswa (Temu Teman) X Banjarmasin 2016, Bandarmasih Jazz Festival, dan Arus Seni Kampoeng Seni Boedaja (KSB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Menurut Novyandi, musik bukan semata sebagai pencipta pertunjukan atau sekadar melakukan kerja artistik. Namun musik memiliki visi-misi yang luhur dalam mengembangkan kebudayaan masyarakat. Tentu yang mengedepankan nilai utama kemanusiaan.
Dengan nama baru mereka, ‘NSA Project movement’ mulai melakukan pergerakan budaya melalui serangkaian kerja seni yang lebih nyata. Mereka membentuk sebuah manajemen seni pertunjukan yang tidak hanya bergerak di bidang seni musik saja.
“Hal ini berawal dari kegelisahan yang kami rasakan, setelah melihat banyaknya panggung-panggung pertunjukan yang digarap tidak menyesuaikan dengan karya-karya yang dipertunjukan. Selain itu, banyaknya ruang-ruang pertunjukan baru yang masih hijau menjadi bagian pembuka ruang pertunjukan kesenian yang lebih luas,” ungkapnya.
Sampai kini, NSA Project memiliki sedikitnya 15 orang anggota yang sudah siap menjalankan cita-cita. Yakni, meneguhkan kembali ikatan pertunjukan dan bermasyarakat. “Kami juga ingin menggugah masyarakat untuk mengembangkan kebudayaan,” kata Novyandi.
Serangkaian wacana tersebut sudah mereka susun untuk siap dilaksanakan. Beberapa di antaranya adalah ‘Barikin Music Camp’, yang direncanakan terlaksana pada 2018. “Barikin sebagai daerah berkumpulnya para seniman tradisional, yang akan menjadi tempat belajar musisi muda yang ikut,” katanya.
Sebagai ruang berkarya bagi para anggotanya, NSA Project memiliki program yang berjudul ‘Sarinting Badayu.’ Mereka melakukan eksplorasi terhadap instrumen musik tradisional Banjar. Riset selalu dilakukan untuk memulai membuat sebuah karya.
Yang terdekat, menurut Novyandi, sebagai perkenalan bentuk NSA Project yang baru, mereka ingin mengadakan pergelaran untuk mengangkat sejumlah tokoh seniman di Kalsel. “Kita punya tokoh seniman yang berjasa di bidangnya masing-masing. Kalau pemerintah kurang memberikan penghargaan, itu akan menjadi tugas kita,” ucapnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here