Menu

Mode Gelap

Seni Budaya · 17 Feb 2020 13:49 WIB ·

Merasakan “Nyanyuk” di Mess L Banjarbaru


 Merasakan “Nyanyuk” di Mess L Banjarbaru Perbesar

KabarKalimantan, Banjarbaru – Seperti judul yang diusung, pertunjukkan musik di Mess L Banjarbaru pada Sabtu (15/2/2020) malam memang membuat “Nyanyuk”.

 

Mess L Banjarbaru seolah jadi wahana ‘rumah hantu’ saat itu. Untuk menyaksikan pertunjukkan yang disajikan Upi Pang tersebut, penonton harus mengikuti ke mana saja tampilan yang ditontonkan. Duduk di satu tempat, hanya mendengar bunyi-bunyian saja.

 

Mulai dari pintu gerbang, penonton disajikan video pada sebuah layar. Di dalam video, ada sejumlah tokoh memberi pengantar terkait karya yang digarap Seniman Lupi Anderiani.

 

Tiba-tiba, gemerincing “Galang Hiyang” terdengar. Benar saja, ada penari yang muncul di keramaian. Ia bergerak, kemudian mengarahkan penonton untuk mengukutinya masuk ke area belakang Mess L.

Baca Juga :   50 Lebih Kelompok Tari Dipastikan Meriahkan HTD Kalsel 2019

 

Rupanya di belakan Mess L pertunjukkan berlanjut. Ada lebih banyak penari yang beraksi. Gerakan mereka menimbulkan bunyi yang harmonis. Itu karena pada tangan mereka ada “Galang Hiyang” yang biasa digunakan masyarakat Pegunungan Meratus saat melakukan ritual.

 

Pertunjukkan tidak habis sampai di situ. Di area lain, muncul bunyi-bunyian lain. Penonton penasaran, ia harus menuju sumber bunyi. Begitu seterusnya.

 

Komposisi musik “Nyanyuk” berasal dari bermacam-macam. Ada alat musik tradisional, seperti suling dan gamelan, juga teriakan hingga berbagai alat lain yang bisa menimbulkan bunyi.

 

Tampilan tidak hanya di halaman depan hingga belakang Mess L. Di dalam gedung pun, secara bergantian ada pertunjukkan yang menarik untuk disimak. Penonton bisa menyaksikan dibalik kaca, atau ikut masuk ke dalam ruangan.

Baca Juga :   Societeit de Kapel, Wadah Dugem Orang Belanda

 

Penonton pun tak sadar, Upi Pang mengajak mereka mengelilingi Mess L. Pertunjukkan berakhir saat semua penonton kembali ke halaman luar Mess L seperti awal.

 

“Nyanyuk” sendiri dalam bahasa Banjar merupakan sebuah kondisi, akibat dari situasi yang kacau dan membingungkan. “Nyanyuk merupakan gejala psikologis akibat banyak persoalan yang belum mendapatkan jalan keluar sehingga menjadi beban pikiran, menimbulkan kebingungan,” kata Lupi Anderiani.

 

Inspirasi karya ini diungkapkan Lupi, datang dari melihat fenomena-fenomona yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Berbagai peristiwa melintas di kepala melalui informasi dari berbagai media.

 

“Hal ini menunjukkan banyak orang yang terganggu kejiwaannya. Stress, mudah marah, tidak bisa mengendalikan diri, tidak mampu melakukan tindakan yang baik, tidak memikirkan kehidupan jangka panjang,” ujar Upi.

Baca Juga :   Mitos Harta Karun dan Kerajaan Ibnu Hadjar

 

Presentasi karya berjudul “Nyanyuk” itu pun benar membuat yang menyaksikan ikut merasakan “Nyanyuk”. Kita digiring dalam berbagai isu melalui bermacam peristiwa yang muncul.

 

Melalui konsep eksplorasi ruang yang ditawarkan Lupi dengan tidak memberi batasan bagi penonton, sejauh mana masuk dalam ke-Nyanyuk-an adalah pilihan. Duduk di satu titik, menyaksikan penonton yang lain sedang berlalu lalang menikmati “Nyanyuk”nya juga sebuah sensasi.

 

Reporter: M Ali Nafiah Noor

Editor: Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab: M Ridha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Ada Pameran Lukisan di Kampung Buku Banjarmasin

23 Oktober 2020 - 20:10 WIB

Ada Pameran Lukisan di Kampung Buku Banjarmasin

Paman Birin Buka Festival Kuntau Tingkat Provinsi Kalsel

19 September 2020 - 20:32 WIB

Ujian, Pentas “Nyanyuk” Kembali Digelar

13 Februari 2020 - 11:11 WIB

Mengenalkan Lamut Lewat Sendratari

2 Februari 2020 - 15:40 WIB

Euforia Kemegahan ‘Karna’

7 Januari 2020 - 14:35 WIB

Sarmela dan ‘Gandut’ yang Berakhir di Tumpukan Sampah

6 Januari 2020 - 10:32 WIB

Trending di Etalase