Nurul Aisturida Beberkan Ciri Kepemimpinan yang Bijak, Salah Satunya ada di Sosok Paman Birin

364

KabarKalimantan, Banjarbaru – Sudah semestinya masyarakat mengetahui tanda-tanda bagaimana seorang pemimpin yang baik dalam suatu wilayah.

Keterbukaan akses informasi di era sekarang diharapkan mampu membuka wawasan masyarakat dari semuan elemen, latar belakang sosial.

Dalam hal ini, Nurul Aisturida SS menjabarkan bagaimana seorang pemimpin tersebut bisa mengerti persoalan arah pembangunan suatu daerah.

Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Sastra Inggris Universitas Dipenogoro Semarang ini menyebutkan, teori kepemimpinan yang banyak tersebar di jurnal-jurnal pendidikan ke tatanegaraan masih relevan dalam penerapannya.

“Yang pasti seorang pemimpin mempunyai kemampuan Decision Making. Menyelesaikan persoalan dengan pengabilan keputusan yang tepat. Ada keseimbangan antara task orientation dan relationship orientation. Kecerdasan dalam membina mengambil keputusan yang tepat sasaran,” ungkapnya.

Tak hanya itu, analisis pendulum juga diharapkan menjadi perhitungan dan strategi yang manis sebagai pemikiran pemimpin dalam mengarahkan pembangunan.

Baca Juga :   Lelang Lagu Kereta Malam Paman Birin Tembus Rp 21 Juta

Terlepas dari teori tersebut, Nurul menjabarkan hal lain, yakni tiga macam gaya kepemimpinan di daerah saat ini. Yakni, pertama Priyai, sebagaimana raja-raja. Kedua kaum tenar, seperti kepemimpinan Belanda, parlente dan protokoler.

“Kemudian yang ketiga yakni Kepemimpinan kerakyatan. Sebagaimana yang dilakukan Gubernur kita di Kalsel, H Sahbirin Noor. Paman Birin, sebagaimana akrab beliau disapa, membangun kepemimpinan yang justru tidak ada batasan antara ia dengan rakyat. Sebagaimana kita masyarakat sering mendapati Paman Birin bisa berdiskusi sekursi dan semeja dengan rakyat. Memberikan pencerahan tentang pembangunan daerah dalam masyarakat pertanian bahkan di warung-warung,” ungkapnya.

Baginya, pergerakan yang ia sebutkan sangat bijak dan penuh pendalaman dalam task oriented suatu pemimpin. Termasuk dalam hal pembangunan, sebagaimana pembangunan di desa beriringan dengan pembangunan di kota. Jangan sampai, pembangunan di kota membuat pembangunan desa menjadi tertinggal hingga terjadi urbanisasi.

Baca Juga :   Menpar Puji Kemeriahan Harjad Provinsi Kalsel ke-69

“Maka akhirnya, akan banyak orang yang unskill masuk datang ke kota yang outputnya malah menaikan angka kriminalitas karena tidak ada kemampuan untuk bertahan. Nah, inilah yang penting menjadi masukan kepada masyarakat tentang bagaimana mencari pemimpin yang tidak ada batas dengan masyarakat, dengan rakyat. Karena tidak ada rakyat maka tidak ada pemimpin,” tambahnya.

Dalam dua tahun ini ia menganalisis pergerakan Sahbirin yang begitu merangkul dan dekat dengan rakyat dan mengatur keseimbangan eksekutif untuk terus bergerak dan bergerak. Ia mengharapkan kelak masyarakat terkhusus di Kalimantan Selatan semakin mengetahui tanda para pemimpin yang mampu mewakili kondisi suatu masyarakat di daerah yang sedang berkembang.

Ananda

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here