Ojol Bonceng Misi Pengurangan Sampah Plastik Banjarmasin

1492
Walikota Ibnu Sina naik ojol menuju lokasi launching pemakaian bakul purun bagi ojol di Siring Bekantan Jalan Piere Tendean

KabarKalimantan, Banjarmasin – Pengurangan kantong kresek kembali ditularkan Pemkot Banjarmasin. Kali ini yang disasar ojek online (ojol).

Para ojol diminta untuk menggunakan bakul purun sebagai pengganti kresek. Mereka juga diminta menolak apabila penjualan makanan memberikan kresek berlebih.

Ini misi lanjutan, sebelumnya Pemkot juga sudah menerapkan pelarangan di toko modern, dan sosialisasi di pasar tradisional. Semangatnya, agar penggunaan plastik bisa terus ditekan.

Terlebih, selain Perwali No 18 Tahun 2016 tentang pengurangan kantong plastik, Banjarmasin juga sudah membuat kebijakan strategi daerah (Jakstrada) saat penilaian Adipura tahun kemarin.

“Untuk mendukung Jakstrada kami berkomitmen guna mengurangi sampah plastik hingga 30 persen di 2025,” ucap Walikota Ibnu Sina, usai launching pemakaian bakul purun bagi ojol di Siring Bekantan, Senin (15/7/2019).

Ibnu menyadari, menjalankan misi pengurangan kresek bukanlah hal yang gampang. Mengingat habit masyarakat yang sudah tertanam lama tak mungkin bisa dirubah dalam waktu singkat.

“Ini hanya sebuah langkah kecil. Tapi semoga dukungan dari ojol, masyarakat sungai, juga yang lainnya bisa meningkatkan pengurangan pemakaian plastik,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, selama dua tahun terakhir sejak penerapan Perwali dilakukan, Banjarmasin bisa mengurangi 13 persen dari 15 persen sampah plastik yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih. 

Kemudian dia mengklaim, angka itu meningkat di  2019 ini menjadi 20 persen. “Dari 600 ton sampah kota yang masuk ke TPA terus bisa dikurangi. Dengan adanya ini semakin bisa meningkatkan,” katanya.

Orang nomor satu di Banjarmasin ini optimis, dengan keterlibatan ojol kali ini tentunya angka pengurangan plastik itu bisa terus diangkat kota berjuluk seribu sungai. 

“Dengan ojol ada sekitar 5 ribu driver. Bayangkan saja sehari minimal satu kresek dikurangi dan diganti dengan bakul. Saya kira angkanya cukup signifikan,” jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mukhyar menimpali, peran ojol disini memang sangat vital. Mereka sebagai orang kedua tentunya bisa sekaligus memberikan sosialisasi kepada penjual.

“Ojol kan pelaku, ketika mereka dikasih mereka diharapkan menolak. Sekalian saja bilang sama pedagang ga perlu pakai kresek,” imbuh Mukhyar.

Selain bakul purun, penerapan penggunaan tumbler juga sudah dilakukan ojol. Dia berharap hal itu juga bisa berdampak terhadap pengurangan penggunaan plastik. 

“Tidak menutup kemungkinan kami akan tambah titik-titik pengisian ulang air minum,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang perwakilan ojol, Muhammad Rizqan, memberi apresiasi dan mengaku siap mendukung program pengurangan penggunaan plastik.

“Sekarang kalau memang kami tak memerlukan kresek pasti kami tolak. Karena sudah ada bakul sebagai wadah penggantinya,” ucapnya.

Saat ditanya apakah tak repot? Rizqan menjawab, malah lebih mudah. Dan dia bersedia menyampaikan ke warung-warung bahwa saat ini ojol sudah memakai bakul purun.

“Ketika saya diberi kresek, saya akan sampaikan kalau sekarang pakai bakul,” pungkasnya.

Reporter: M Syahbani

Baca Juga :   Fokus: Jejak Komunis dan Lekra di Banua (1)

Editor: Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab: M Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here