Paman Birin: Warisi Nilai Perjuangan  Pahlawan

2 min read
1.199

KabarKalimantan, Banjarmasin – Peringati wafatnya Pahlawan Nasional, Pangeran Antasari ke-159, Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor mengingatkan akan perlunya mewarisi nilai-nilai juang para pahlawan.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Kalimantan Selatan yang akrab disapa Paman Birin saat upacara peringatan wafatnya Pahlawan Nasional Pangeran Antasari ke 159 di Kompleks Pemakaman kawasan Masjid Jami Banjarmasin, Senin (11/10/2021).

Paman Birin mengatakan, nilai-nilai juang para pahlawan harus diwarisi oleh semua yang tentunya memberikan pembelajaran yang baik atau tuntunan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

“Itu yang harus kita warisi dalam kita menghadapi persoalan negara, pemerintahan, sosial kemasyarakatan, apa saja. Semangat itu yang harus diwarisi,” katanya.

Baca Juga :   HDKD 2017, Kemenkumham Kalsel Siapkan Aneka Kegiatan

Ia menuturkan, pesan-pesan yang diamanatkan Pangeran Antasari ujarnya, senantiasa relevan dengan kehidupan saat ini.

“Semangat seperti Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing. Atau Jangan Bacakut Papadaan, perlu jadi pegangan,” ucapnya.

Dalam peringatan wafatnya Pangeran Antasari diawali dengan penghormatan, pembacaan riwayat singkat, pembacaan pesan-pesan Pangeran Antasari oleh pimpinan upacara,  dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga dan doa serta menyerahkan tali asih oleh Pemerintah Provinsi Kalsel kepada para keluarga atau ahli waris para pejuang di Kalsel yang diserahkan langsung Paman Birin.

Baca Juga :   106 Laporan Warga Banjarmasin Mengadu ke Lima SOPD

Turut hadir Ketua DPRD Kalsel, Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel,  Kajati Kalsel, Wakil Kapolda Kalsel, Komandan Korem 101 Antasari dan sejumlah pejabat lain.

Dalam sejarahnya, Pangeran Antasari lahir pada 1797. Nama aslinya adalah Gusti Ibu Kartapati. Ayahnya bernama Pangeran Masohut (Mas’ud) dan ibunya Gusti Hadijah. Ia memiliki adik perempuan bernama Ratu Antasari.

Meski memiliki darah bangsawan, Pangeran Antasari tumbuh besar di kalangan rakyat biasa. Ia pun menjadi sosok yang dekat dengan rakyat. Ia begitu disegani dan sangat berpengaruh bagi masyarakat Banjar. Itulah mengapa, ia begitu ditakuti oleh Belanda.

Baca Juga :   Fakultas Hukum ULM Gelar Colloquium Internasional

Akhirnya pada 1862, Pangeran Antasari diangkat menjadi pimpinan pemerintahan menggantikan sang ayah. Ia dianugerahi gelar Amiruddin Khalifatul Mukminin yang berarti ia menjadi pimpinan pemerintahan, panglima perang, sekaligus tokoh agama terkemuka.

Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862. Ia terserang penyakit cacar yang mewabah pada masa itu. Ia dimakamkan di Taman Makam Perang Banjar. Ia baru dinobatkan menjadi Pahlawan Indonesia pada 27 Maret 1968.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *