Pedagang Pasar Terapung Lok Baintan Juga Orang Banjarmasin

1170

KabarKalimantan, Banjarmasin – Terkait statemen Bupati Kabupaten Banjar, H Khalilurrahman yang meminta agar para pedagang Pasar Terapung Lok Baintan tak diklaim Pemkot Banjarmasin mendapat tanggapan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banjarmasin.

Kabid Pengembangan Pariwisata Disbudpar Banjarmasin, Khuzaimi menilai, jika selama ini Pemkot Banjarmasin tak pernah mengklaim acil-acil (pedagang perempuan) yang kerap dipakai untuk mengisi pasar terapung di Siring Menara Pandang Jalan Piere Tendean milik Banjarmasin.

Pasalnya, menurut pria yang akrab disapa Zimi ini, jika dirunut ke belakang, para pedagang itu memang orang Banjar. “Sejak Kesultanan Banjar, yang dagang ke Banjarmasin ya orang Lok Baintan. Terlebih kalau dilihat dari sejarah geografis Banjarmasin. Dulu kan luas sampai Kalteng, Kaltim juga masuk Banjarmasin,” ucapnya.

Kendati demikian, Pemkot Banjarmasin tetap mengucapkan terimakasih kepada Pemkab Banjar yang sudah membolehkan para pedagang pasar terapung untuk mencari nafkah dan mengisi pasar terapung di siring menara pandang. “Kami memberikan hormat karena telah memberikan kesempatan pedagang lok baintan jualan ke siring Banjarmasin,” imbuhnya.

Baca Juga :   Dewan Harapkan Pemkot Perhatikan Pasar Terapung Muara Kuin

Zimi melanjutkan, saat ini tidak kurang dari 70 pedagang yang diambil dari Lok Baintan. Mereka biasanya dipakai untuk mengisi paras terapung siring menara pandang setiap akhir pekan. “Sabtu dan Minggu mereka disini, sedang hari lain mereka jualan disana,” katanya.

Kendati dulunya para pedagang ini dibayar setiap diminta ke Banjarmasin, saat ini ujar Zimi pedagang sudah mulai mandiri. Sebab, sejak dua tahun lalu sistem bayaran tersebut sudah ditiadakan. “Kami juga memberi imbauan agar anak-anak mereka juga diajak jualan kalau akhir pekan. Agar bisa menjadi regenerasi. Itu adalah sebagai bentuk pembinaan kami,” tuturnya.

Lantas apakah pedagang di siring menara pandang semuanya berasal dari Lok Baintan? Zimi tak menampik hal itu, dia mengakui jika semuanya berasal dari Lok Baintan. Pasalnya, pedagang dari pasar terapung Kuin enggan untuk diajak. “Kuin terus terang tidak mau, pedagang kita maunya emak-emak. Sedang di Kuin bapak-bapak. Kalau bapak-bapak agak susah,” katanya.

Baca Juga :   Dewan Harapkan Pemkot Perhatikan Pasar Terapung Muara Kuin

Selain itu, Zimi tidak sependapat jika pasar terapung di siring menara pandang disebut pasar terapung buatan. Dia menganggap, jika apa yang dilakukan Pemkot adalah sebuah inovasi terhadap kebudayaan. “Sebutannya pasar terapung atraksi Banjarmasin. Kalau disebut buatan saya tidak sependapat,” ujarnya.

Mengapa demikian, sebab ujar Zimi apa yang dilakukan disana memang tidak seperti halnya tradisi berjualan di tengah sungai. “Itu namanya inovasi. Kalau diperlakukan seperti itu pengunjung banyak yang nonton saja. Belum lagi ombaknya yang besar,” tukasnya.

Untuk diketahui, Bupati Banjar H Khalilurrahman menyampaikan terkait statemen Banjarmasin jangan mengklaim pedagang Lok Baintan milik Banjarmasin saat membuka Festival Wisata Pasar Terapung Lok Baintan di dermaga bawah Jembatan Sungai Pinang, Minggu (2/12/2018).

“Mau jualan di pasar terapung Banjarmasin silakan. Tapi jangan sampai diklaim kalau para pedagang itu adalah milik mereka. Kalau mau mencari rezeki di tempat lain silahkan,” ucapnya.

Baca Juga :   Dewan Harapkan Pemkot Perhatikan Pasar Terapung Muara Kuin

M Syahbani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here