Pentas Multi Tafsir Dapur Teater

KabarKalimantan, Banjarmasin – Pentas “Di Belakang Layar” karya Ahmad Hafiz di panggung Aruh Seni KSB ULM 2019 tampil seadanya. Memaknainya bisa ke mana saja.

Dari panggung musiman KSB tepat di depan sekretariat bersama organisasi mahasiswa ULM Banjarmasin, Dapur Teater mementaskan karya Ahmad Hafiz tersebut pada Kamis (2/5) malam. UKM Kampoeng Seni Boedaja (KSB) ULM tengah merayakan hari lahirnya. Mereka manggung sebagai salah satu penampil karya apresiasi yang disediakan untuk para komunitas, baik dari lingkungan kampus maupun umum.

Sadar jika tak perlu merepotkan panitia, Dapur Teater membawa keperluan artistik pun tak perlu berbanyak-banyak.Mereka tampil hanya membawa kumpulan koran yang di bentang antara dua tiga tiang. Jika diperhatikan tampak seperti layar. Demikian juga dengan tata cahaya, cukup dengan hanya beberapa lampu tangan.

Sesekali layar dilingkarkan. Para pemainnya berkumpul dari dalam layar. Beberapa dialog disusun kesana-kemari. Buka lagi, tutup lagi.

Baca Juga :   Semarak Bagandut ala Kampoeng Seni Boedaja ULM

Kadang-kadang pemain juga menengok dari balik tirai koran bekas itu. Mereka sambil memainkan arah lampu tangan pada lawan main.

Hingga kurang lebih sudah berlangsung antara 10 menit lebih, drama mencapai klimaks. Layar koran benar-benar dibuka para pemainnya. Di balik layar ada suara yang keluar.

“Jika hanya bisa berbicara di balik layar, tak ada gunanya. Lebih baik robohkan saja,” teriak mereka yang ternyata para pemain Dapur Teater.

Layar pun rubuh ke arah depan. Para pemain hanya melepas pegangan mereka pada tongkat penyangga layar koran. Lantas tampak lah mereka dengan sudah siap berbaris. Lampu tangan menuju satu arah, ke samping kanan atas pemain yang menghadap penonton. Tiba-tiba saja mereka menunduk tanda undur diri.

Usai pentas, Hafiz yang saat pementasan tak perlu ikut di atas panggung berkenan diwawancara. Ia pun menjelaskan jika pentas tersebut sesungguhnya terinspirasi dari pemilu yang baru saja berlangsung. Proses penggarapan artinya baru dimulai beberapa minggu terakhir saja.

Baca Juga :   FKIP ULM Mencari Duta Mahasiswa

Koran sebagai material utama artistiknya itu memang dipilih bukan tanpa alasan khusus. Namun yang diungkapkan Hafiz, hanya ide awalnya yang sekadar ingin menghadirkan jenis suara tanpa alat musik.

“Sehingga pemusik tidak perlu ada. Konsepnya lebih efektif,” ucap Hafiz menerangkan.

Konsep pentas yang ditwarkan Hafiz terkesan memberi alternatif pada pegiat seni lainnya. Khususnya untuk jenis seni pertunjukkan. Tidak perlu tempat khusus, karya itu bisa dimainkan.

“Selain itu tentu juga untuk menghemat biaya produksi,” Kata Hafiz menambahkan.

Soal memaknai pentas yang disuguhkannya, Hafiz rupanya memberi hak penuh pada penonton. Adegan-adegan di atas panggung itu menurutnya cuma simbol belaka.

“Sesungguhnya ini bisa ditafsir siapa saja. Simbolnya cocok untuk kalangan apa pun. Dengan persoalannya masing-masing,” ujarnya.

Reporter : M Ali Nafiah Noor
Redaktur : Suhaimi Hidayat
Penanggungjawab : Muhammad Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here