Pentas Natus KSB, Bicarakan Kelahiran dalam Perayaan Kelahiran

2602

KabarKalimantan, Banjarmasin – Kampoeng Seni Boedaja (KSB) ULM pentaskan “Natus” dalam puncak kegiatan tahunan mereka yang bertajuk Aruh Seni sebagai perayaan ulang tahun mereka, Jum’at (3/5) malam.

Aruh Seni KSB ULM telah sampai pada puncaknya. Jika pada malam sebelumnya tampil komunitas apresiator, kali ini panggung yang digelar di depat sekretariat bersama Organisasi Mahasiswa ULM Banjarmasin itu sepenuhnya milik KSB. Mereka menampilkan reportoar berjudul “Natus”.

Berbeda dari kebanyakan pentas yang mereka tampilkan sebelumnya, “Natus” ini agak berat untuk dinikmati. Jika biasanya mereka mengusung tema-tema kebudayaan, kali ini lebih pada persoalan eksistensialis yang bersifat universal.

Untungnya ada sinopsis yang dibacakan di awal pertunjukkan. Itu cukup membantu penonton untuk memahami jika pentas Natus menggambarkan sebuah proses kelahiran. Ada hitam dan putih yang harus dipilih kemudian.

Adegan gerak eksloratif pun dimulai. Ada sosok terkurung dalam sangkar plastik. Musiknya cukup mengerikan dan lumayan mengganggu.

Itu dilanjutkan dengan munculnya karakter-karakter dari berbagai sudut. Sesekali mereka berbicara dalam bahasa yang puitis. Kata-katanya mengajak untuk bertanya.

Usut punya usut, pentas Natus yang digarap Febridha Pebrina itu memang untuk direnungkan. Kata “Natus” sendiri berarti kelahiran. Diambil dari bahasa latin.

Soal musik yang sebagian memang menjadi teror, diakui Peby sebagai kesengajaan. “Ketika seseorang melahirkan kan memang seperti itu,” katanya.

Menurut Peby, kelahiran yang ia maksud sesungguhnya tidak sebatas untuk hidupnya seorang manusia saja. Apa yang dilakukan manusia pasti ada akibatnya. Itu juga salah satu kelahiran yang ia maksud, termasuk membuat sebuah karya.

Pertanyaan berlanjut. Begitu juga dengan karya seni dan tradisi yang selama ini sudah ada. Peby mengajak penonton merenungi untuk apa itu semua.

“Kita dihadapkan pada pilihan baik dan buruk,” ujarnya.

Sebagai karya pertunjukkan, Natus digarap secara kolektif. Peby menceritakan proses lahirnya karya itu. Waktu penggarapan pun tergolong singkat, hanya kurang dari dua bulan.

“Kami lebih banyak berdiskusi. Bahkan saat membicarakan tentang kelahiran ini, diskusi kami melalar sampai kemana-mana,” kata Peby.

Meski terkesan liar dari garapan-garapan sebelumnya, citarasa dan gaya KSB tak hilang sepenuhnya. Khususnya pada unsur bunyi-bunyian. KSB yang punya semboyan melestarikan budaya Banua tidak meninggalkan bunyi-bunyi dari alat musik tradisional Kalimantan Selatan.

Soal itu ternyata Peby juga punya kegelisahan. Sedikit banyaknya dituangkannya pula di dalam karya ini. Ia mengaku gusar dengan pengotak-kotakkan jenis kesenian, khususnya antara tradisional dan modern.

“Itu juga perlu kita pertanyakan. Lahirnya untuk apa? Kadang yang memainkan kesenian tradisional belum tentu mengamalkan nilai-nilainya, begitu juga sebaliknya,” ucapnya.

Reporter : M Ali Nafiah Noor

Redaktur : Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab : Muhammad Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here