Kam. Jul 16th, 2020

Perang Pertama Dipicu Perpindahan Bandar Niaga

2 min read

“Bunyi bedil seperti guruh, nyala djirat seperti kilat, asap sandawa seperti kukus api manyalukut bertolong itu,” tulis JJ Ras dalam Hikayat Banjar tentang suasana pertempuran antara Pangeran Samudera dan Pangeran Tumenggung.

Wartawan: M Ali Nafiah Noor

Hikayat Banjar menyebutkan, Pangeran Tumenggung membawa pasukan sebanyak tiga laksa. Sedangkan yang meninggal dunia dalam pertempuran pertama tersebut diperkirakan sebanyak tiga ribu orang. Sementara Pangeran Samudera memiliki lebih banyak pasukan.
“Rakyat Pangeran Samudera berlawan itu kira-kira orang tujuh ribu, orang dagang kira-kira seribu. Yang mati kira-kira orang dua ratus,” lanjutnya.

Selain sebagai upaya perebutan tahta, pertempuran tersebut juga merupakan buntut dari inisiasi Patih Masih untuk memindahkan bandar niaga di Muara Bahan ke Muara Banjar. Dapat dilihat jumlah kekuatan yang tak seimbang tersebut mengakibatkan sebagian pasukan Pangeran Tumenggung harus kembali mudik.

Baca Juga :   Jaringan 4G Indosat Ooredoo Jangkau Seluruh Kalsel

Sejarawan Kalsel Yusliani Noor menulis dalam Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 sampai ke-19), otoritas kerajaan Negara Daha yang dikuasai Pangeran Tumenggung tidak menyadari harapan dan kepentingan para pedagang dari luar Banjarmasin itu. Sehingga ketika ada imbauan perpindahan bandar niaga dari Muara Bahan ke Muara Banjar, serentak para pedagang mengikutinya.

Patih Masih sebelumnya berhasil mewujudkan Banjarmasin sebagai bandar niaga dengan mengangkat raja Pangeran Samudera yang lari dari Negara Daha karena kalah dalam politik perebutan takhta dengan Pangeran Tumenggung. Dalam upayanya tersebut, patih Masih dibantu Patih Muhur, Patih Kuin, Patih Balit, dan Patih Balitung.

Untuk menguatkan legitimasi atau pengakuan kekuasaan politik Pangeran Samudera di Banjarmasin, Patih Masih mengambil langkah tegas. Ia memerintahkan anak buahnya untuk memberitahu ke berbagai daerah bahwa telah berdiri kerajaan baru di Banjarmasih. “Istilah Kota Banjarmasih seperti disebutkan dalam Hikayat Banjar ini lambat laun mengalami perubahan dan menjadi Banjarmasin,” ujar Yusliani.

Baca Juga :   Pelindo III Banjarmasin Bagi Sembako dan Tiket Mudik Gratis

Pengakuan Patih Masih ini lantas menuai reaksi dari Pangeran Tumenggung hingga mengakibatkan pecahnya pertempuran tersebut. Karena tak ada pilihan lain, ia pun melancarkan serangan dengan membawa tentaranya ke hilir Sungai Barito.

Pertempuran awal di ujung Pulau Alalak ini rupanya telah mencapai persiapan matang. Kedua belah pihak melibatkan banyak orang dengan menggunakan perahu dan lanting besar.

Para pedagang yang berpihak kepada Pangeran Samudera dimungkinkan dilengkapi dengan peralatan tempur yang lebih canggih. Yusliani menjelaskan keterlibatan para pedagang yang kemungkinan di antaranya telah memiliki senjata api bedil dan meriam, dapat dihubungkan dengan telah datangnya orang-orang Portugis ke Malaka pada 1509. Pada Agustus 1511 Portugis telah mengasai Malaka. “Para pedagang dari berbagai bangsa mungkin terlibat pula jual-beli senjata dengan Portugis,” katanya.

Menurut dosen sejarah di Universitas Lambung Mangkurat ini, lukisan Hikayat Banjar tentang pemakaian bedil dan meriam menunjukkan mobilitas pedagang berbagai bangsa telah ikut mendukung kepemimpinan Pangeran Samudera. “Mereka sebagian kolega dagang dari komunitas Melayu di Muara Banjar,” ujarnya.

Baca Juga :   Taksi Online Langgar Aturan, Taksi Kuning Ngamuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.