Rab. Agu 12th, 2020

Perjuangkan Hak Disabilitas, Yoyok Disambut Dingin di Balai Kota Banjarmasin

3 min read

KabarKalimantan, Banjarmasin – Keterbatasan bukanlah suatu halangan bagi Yoyok Waloyo (44) yang bertekad mengelilingi Nusantara untuk memperjuangkan hak disabilitas.

Dengan mengendarai motor bebek bermomor polisi AG 5639 JG yang sudah dimodifikasi menjadi roda tiga tersebut, pria kelahiran Kediri, 1 Juli 1974 ini nangkring di halaman Balai Kota Banjarmasin, Jalan RE Martadinata, Jumat (20/4/2018) kemarin.

Di bagian body motor produksi 1995-2003 yang dikendarainya itu, tampak bergelantungan beberapa bundelan, tas tempat pakaian, kantong kresek berisi berkas perjalanan serta keperluan sehari-harinya selama di perjalanan berkeliling Indonesia untuk menyuarakan hak kaumnya.

Pada bagian belakang motor, terpasang spanduk berwarna kuning bertulisan “Berjuang Disabilitas Mencari Hak Keliling Indonesia”.

Yoyok yang merupakan warga Desa Kanyora, RT 002 Kecamatan Seman, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini meninggahi balai kota untuk bertemu Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina guna menyampaikan maksud tujuanya. Sekaligus meminta surat keterangan sebagai bukti Banjarmasin kota yang sudah disambangi.

Sayangnya, keinginan Yoyok itu kandas ketika dia tahu Walikota Ibnu Sina sedang tidak ada di tempat. Yoyok hanya berhasil mengantongi surat keterangan yang diberikan Kasubag TU, Staf Ahli dan Kepegawaian Bagian Umum Setdakot Banjarmasin. “Katanya walikota sedang keluar,” ucap Yoyok setengah kecewa.

Baca Juga :   Paman Terbukti Peduli Pendidikan

Ironisnya, Yoyok juga tidak diberi kesempatan untuk bertemu pejabat tinggi lain di Pemkot Banjarmasin. “Tidak ada disuruh masuk untuk bertemu siapa-siapa. Surat ini juga diserahkan cuma lewat petugas Satpol PP,” imbuhnya.

Dia memaklumi sikap yang diterimanya itu, sebab selama ini dia tidak jarang mendapat perlakuan yang serupa di daerah lain. “Untuk pelayanan pemerintah sama. Setiap saya datang rata-rata 75 persen perlakuanya seperti ini,” jelasnya.

Yoyok merupakan salah seorang berkebutuhan khusus (Disabilitas). Di usia 6 tahun, dia mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan cacat kaki, dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan hingga sekarang.

Kendati demikian, ayah satu anak ini dikenal memiliki semangat dan rasa sosial yang tinggi. Buktinya, dia rela keliling 33 provinsi dengan keterbatasan demi memperjuangkan hak disabilitas, khususnya di daerah.

“Kalau anak saya sangat mendukung dengan apa yang saya lakukan ini. Karena dia tahu bagaimana saya ini,” ujarnya.
Sejak Oktober 2017 lalu, Yoyok memulai petualangannya dari Mojokerto, Jawa Timur menuju Indonesia bagian timur. Dengan bermodal motor butut serat biaya sendiri, dia memulai misi kemanusiaannya.

Baca Juga :   Pendaftaran Seleksi PPPK Belum Jelas, K2 Harap-harap Cemas

“Kalau istirahat ya sering di pos polisi. Untuk ongkos biasanya saya mijat di terminal, ngerongsok,” ungkapnya.
Hati tergerak untuk memperjuangakan Undang-Undang Nomor 8/ 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Sebab menurutnya, pemerintah daerah belum banyak menyentuh hak penyadang disabilitas. “Makanya saya keliling sampai seperti ini,” ucapnya.

Selama ini, menurut Yoyok, pemerintah daerah masih banyak tidak terlalu perduli dengan persoalan hak disabilitas. Buktinya masih banyak daerah yang tidak memiliki peraturan daerah (Perda) tentang itu.

“Setelah saya keliling ini, daerah Jember, Kediri, Malang sudah mulai ada. Yang pertama buat Perda itu DIY. Untuk timur masih belum ada,” jelasnya.

Dia meceritakan, pernah mendapat pengalaman ketika menyambangi DPRD Jawa Timur. Yoyok dikasih uang oleh Sekretaris DPRD Jatim Rp 25 ribu. Padahal dia datang bermaksud meminta surat keterangan perjalanannya.

“Yang perlu dicatat, disabilitas bukan pengemis! Tetapi haknya disamakan, dan diberikan kesempatan seperti orang pada umumnya,” tegas Yoyok sambil menunjukan uang yang masih dia simpan hingga sekarang.

Baca Juga :   6.000 Karateka Banua Pecahkan Rekor MURI

Dia juga mengkritisi program-program yang dibuat pemerintah daerah. Menurutnya kegiatan masih berkutat pada jangka pendek. “Percuma Dinsos melakukan pelatihan. Tapi angaranya banyak bocor. Setelah dilatih dipulangkan, terus pekerjaannya tidak ada,” katanya.

Kemudian, banyak program bantuan pemerintah pusat seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tidak tepat sasaran. Kendati sudah disuarakan melalui organisasi disabilitas, akan tetapi masih sering dipandang sebelah mata.

Setelah dari Pememerintah Kota Banjarmasin, Yoyok berencana mendatangi Pemerintah Provinsi Kalsel. Kemudian perjalanannya dilanjutkan ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

“Kalau dari Mojokerto kemarin saya ke putar ke Jawa Timur, terus Bali, Lombok, bagian barat, timur, tengah, termasuk Dompu, Mataram. Sumatera juga sudah,” ungkapnya.

Setelah dari Kalimantan, dia berencana melanjutkan menyeberang ke Sulawesi, Maluku, Irian, hingga finish di Istana Negara untuk bertemu Presiden RI Joko Widodo guna melaporkan semua hasil perjalannya, dan apa yang dia peroleh selama melakukan misi kemanusiaan tersebut.

“Mudah-mudahan nanti banyak kawan-kawan media yang menyambut di sana,” harap Yoyok.
M SYAHBANI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.