Sen. Jul 6th, 2020

Perpustakaan Megah, Apakah Hanya Mimpi?

2 min read

BAGAIMANA tingkat keseriusan suatu pemerintah daerah memajukan pendidikan untuk masyarakatnya bisa dilihat salah satunya lewat kondisi perpustakaan. Jika perpustakaan milik pemerintah daerah tampak dibiarkan tak terawat, maka kita bisa menilai sejauh mana level kepedulian pemangku kebijakan terhadap pendidikan.

Jika menengok perpustakaan milik pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan, hanya beberapa yang benar-benar bagus dan memiliki koleksi buku baru dan lengkap. 

Lalu kita menengok ke Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin. Kondisi perpustakaan sebagai gudang ilmu terlihat kusam. Bahkan cenderung memprihatinkan. Sangat kontras dengan laju pembangunan fisik seperti taman, siring sungai, dan kawasan kuliner.

Padahal pembangunan fisik semacam taman, kawasan kuliner harus jujur disadari sedikit sekali kaitannya dengan upaya pembangunan karakter dan mental masyarakat Kota Seribu Sungai.

Berbagai alasan klasik seperti kekurangan anggaran hingga minimnya minat baca masyarakat selalu menjadi senjata pamungkas saat hal ini kemudian dipertanyakan. Padahal sebenarnya yang harus ditanyakan adalah: apakah ada kemauan atau tidak?

Minat baca masyarakat jelas tak akan meningkat, jika fasilitas tempat baca dan bacaannya juga tak ditingkatkan. Bagaimana masyarakat akan antusias mengunjungi perpustakaan, jika tempatnya saja terkesan “jadul” dan jauh dari nuansa kekinian. Atau minimal memiliki koleksi buku-buku terbaru sesuai perkembangan.

Jika melihat perpustakaan di luar negeri, semisal di Amerika Serikat. Salah satu perpustaaan paling baik di dunia adalah Perpustakaan Universitas Yale, Amerika Serikat. Bangunan perpustakaan didesain sang arsitek Gordon Bunshaft. 

Perpustakaan ini diperuntukkan untuk umum sejak 14 Oktober 1963. Bangunan perpustakaan dibuat dengan kualitas paling bagus. Bahan-bahannya dipilih dari yang terbaik seperti granit, marmer, kaca dan bahan berkualitas lainnya.

Di samping desain bangunan rapi, dan nyaman, suhu di dalam ruangan pun diatur dengan suhu 21 derajat celcius dengan kelembaban aman untuk buku. Sehingga pengunjung tak bakal melihat buku-buku bedebu pada perpustakaan ini.

Begitulah seharusnya, perpustakaan adalah cerminan kepedulian pemerintah daerah terhadap pendidikan. Jangan dulu berbicara ingin memajukan pendidikan, jika perpustakaan saja tak maksimal dikembangkan. 

Hari ini bukan eranya lagi banyak berkata-kata. Terlalu banyak kata-kata hanya akan membuat orang semakin bosan. Hari ini eranya bekerja. Buktikan dengan kerja nyata. Perpustakaan harus dibangun lebih megah daripada taman-taman yang tak jarang digunakan pasangan muda-mudi bermesra-mesra.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.