Ming. Jan 24th, 2021

Program ‘Baiman’ Ibnu Sudah Terbukti untuk Kesejahteraan ASN

3 min read

KabarKalimantan, Banjarmasin – Sang petahana, Ibnu Sina telah membuktikan program Baiman mampu meningkatkan reformasi birokrasi khususnya tentang kepastian jenjang karier dan kesejahteraan ASN di lingkungan Pemerintah Kota Banjarmasin.

Sejak Ibnu Sina dilantik menjadi Walikota Banjarmasin pada 2016 lalu, di sanalah program Baiman mulai berjalan. Bahkan, setahun berselang untuk pertama kalinya Kota Banjarmasin merupakan kota pertama yang melakukan lelang jabatan.

“Yang melelang Sekda pertama kali di Kalsel adalah Kota Banjarmasin,” ujar Ibnu.

Sejalan dengan itu, Komisi ASN memberikan apresiasi dan menyetujui untuk dilaksanakan lelang jabatan atau seleksi terbuka untuk jabatan pimpinan tinggi (JPT) pratama Eselon II, yaitu Setdako Banjarmasin.

Selain menjadi kota pertama yang melelang jabatan, pertama kalinya juga di zaman Ibnu Sina ASN pemko bisa menjabat menjadi sekretaris daerah (Sekda).

Ibnu Sina mampu mematahkan anggapan saat itu bahwa pegawai ASN pemko tidak ada yang layak menjadi sekda. “Kita membuktikan asumsi tersebut tidaklah benar. Orang-orang pemko pun layak menjadi sekda di Pemkot Banjarmasin sendiri,” terang dia.

Kemudian, reformasi birokrasi kedua terkait dengan kesejahteraan ASN yang sangat diperhatikan di masa kepemimpinan Ibnu, di mana untuk pertama kalinya Pemko Banjarmasin menerapkan tunjangan kinerja atau Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP).

“Sebelum kabupaten/kota dan pemprov menerapkan, Kota Banjarmasin sudah menerapkan terlebih dulu sejak 2019 lalu. Tunjangan berbasis kinerja ini bertujuan untuk menyamaratakan dan memberi keadilan sehingga tidak ada dinas basah atau kering termasuk di ujung-ujung pelayanan publik kita,” urai dia.

Dirinya pun tak menampik keraguan datang dari ASN pemko sendiri, mereka berasumsi apakah mungkin seorang Walikota Ibnu Sina berani menerapkan tunjangan kinerja, menghapuskan honararium kemudian menghimpun seluruh pendapatan tersebut dan dikembalikan kepada ASN dalam bentuk Tukin. Namun Ibnu telah memastikan dan membuktikan program ini dapat berjalan.

“Di situ kita akan fair, yang bekerja lebih banyak mendapatkan hasil yang lebih banyak juga. Sehingga standar pendapatan ASN Kota Banjarmasin lebih tinggi dibanding yang lain,” jelas dia.

Dengan adanya tunjangan kinerja ini, lanjut Ibnu, tingkat kesejahteraan ASN di Pemko Banjarmasin relatif lebih dibanding daerah yang lain. Saat ini saja, kata dia, sekian banyak ASN dari daerah lain bahkan di luar Kalimantan, di luar Kota Banjarmasin yang ingin pindah ke Banjarmasin. Alasannya karena sudah berada di kota pendapatan tukin yang diterima juga lebih besar.

Sebagai bayangan, lanjutnya, pejabat Eselon II, Kepala Dinas mendapatkan tukin kurang lebih Rp25 juta setiap bulannya. Sedangkan tukin untuk Sekda Kota Banjarmasin Rp 54 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan Sekda Provinsi Kalsel sekalipun.

“Dengan meningkatka kesejahteraan ASN itu, diharapkan mereka dapat melayani warga dengan sepenuh hati, rajin melayani, cepat, murah dan tidak menyulitkan,” tandasnya.

Tiga prinsip dalam pelayanan publik yang selalu disampaikan Ibnu secara resmi dan berulang-ulang sejak awal menjabat. Pertama, jika bisa dipermudah kenapa harus dipersulit. Kedua, jika bisa dipercepat kenapa harus diperlambat. Ketiga, jika bisa selesai hari ini kenapa harus menunda sampai besok.

“Tiga prinsip ini, saya ingatkan terus dan diminta dipasang di semua ruang SKPD bahwa sebagai abdi masyarakat itulah visi jangka panjang, maju ke depan terkait dengan profesionalisme ASN di Pemko Banjarmasin,” ujarnya.

Itu diantaranya reformasi birokrasi dan upaya-upaya perbaikan sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola pemerintahan di Pemko Banjarmasin selama kepemimpinan Ibnu Sina.

Ia pun menampik bahwa tidak ada istilah lelang jabatan tidak dipakai.

“Saya bisa bantah itu, tidak ada istilah lelang jabatan tidak dipakai. Semua dijadikan referensi ketika dari pansel memutuskan tiga besar itu menjadi pertimbangan. Tetapi ketika tiga orang sudah masuk ke dalam meja pimpinan salah satu yang paling terbaik, maka dia yang kami pilih,” terangnya.

Dirinya pun memberi keadilan terhadap ASN terkait loyalitas dan profesionalisme. “Kita berikan reward dan punishment kepada ASN tergantung kinerjanya. Itu fair,” katanya.

Menurutnya, aturan tentang kepegawaian itu sudah baku kecuali sifatnya inovasi dalam reformasi birokrasi seperti keberanian menerapkan tukin. “Itu murni inisiatif walikota untuk memberikan kesejahteraan kepada ASN, agar murni berpikir bagaimana melayani masyarakat sepenuh hati,” paparnya.

Saat ini pun, lanjut Ibnu, pejabat-pejabat di tingkat kelurahan sekalipun telah diperhatikan kesejahteraannya, mereka mendapatkan penghasilan bahkan tiga kali lipat tunjangannya dari pada sebelumnya.

“Tetap bersemangat, Banjarmasin bisa Banjarmasin Baiman, lanjutkan,” tutupnya.

Reporter: Smara Aqdimul Azmi
Editor: Suhaimi Hidayat
Penanggungjawab: M Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.