Riset Tanggung Pentas Datu Abulung

477

Kebiasaan saya semenjak pulang dari Solo adalah rajin menghadiri pertunjukan-pertunjukan yang dibuat oleh seniman di Kalimantan Selatan dengan berbagai karya mereka. Saya kemudian juga memberanikan diri untuk membuat sebuah kritik pertunjukan karya-karya seni yang dipertunjukan, mayoritas adalah seni pertunjukan. Dalam dua tahun terakhir istilah karya by research seperti mengalami euphoria. Konotasi mereka cenderung mengarah bahwa apa yang mereka buat atau ciptakan adalah hal baru dan bagian dari sebuah inovasi kekaryaan.

Riset merupakan sebuah aktivitas intelektual yang dilakukan oleh seseoang atau kelompok untuk menemukan sesuatu. Riset tidak bisa hanya dilakukan sebagai sebuah upaya gagah-gagahan. Dimensi riset adalah usaha untuk membongkar kompleksitas-kompleksitas yang ada pada sebuah kasus yang sedang dikaji. Ruang seni pertunjukan dalam hal ini penciptaan karya juga demikian. Di era sekarang dalam ruang riset sudah tidak membicarakan hal-hal yang bersifat makro, namun lebih menjurus pada analisis-analisis yang mikro tentu tujuannya adalah agar sebuah kajian bisa dilihat jauh lebih dalam lagi. Persoalan waktu kemudian juga menjadi penting. Memang dalam sebuah riset tidak ada pembatasan waktu namun idealnnya dilihat dari studi kasusnya maka seorang peneliti tahu benar kapan riset tersebut akan selesai.

Pada kasus Karya Datu Abulung yang diciptakan oleh KSB ULM menyebutkan bahwa karya yang mereka buat melalui hasil riset. Hal ini kemudian menjadi menarik untuk diulas berdasarkan pada hasil riset tersebut yakni karya seni yang dipertontonkan. Dalam ruang penciptaan seni riset ini kemudian disebut sebagai riset artistic.

Pada dunia peciptaan seni ada sebuah metode riset yang disebut dengan riset artistik. tujuan adanya riset artistik adalah upaya meminimalisir kesalahan-kesalahan yang terjadi pada sebuah karya. Rahayu Supanggah mengatakan “riset artistik adalah upaya seorang seniman dalam mengurangi kesalahan-kesalahan dalam proses penciptaan karya seni.” (Makalah Seminar Internasional Artistic Research “Perlunya penelitian artisitik dalam pembuatan karya: Karya La Galigo” Rahayu Supanggah, 2016). Acuan tersebut tentu merupakan sebuah langkah-langkah yang secara signifikansi mengacu pada adanya sikap penelitian seorang seniman.

Pada dasarnya riset artistik dilakukan sebelum karya itu dibuat menjadi sebuah bentuk karya utuh. Riset artistik menjadi langkah awal seorang seniman dalam meyakinkan diri atas apa yang mau digarap menjadi sebuah karya seni. Proses kreatif itu sendiri sembari berjalan merupakan ruang penelitian seniman dalam menemukan demensi-demensi artistik sehingga terakumulasi dalam sebuah hasil riset artistik.

Saya tertarik kemudian untuk membahas persoalan riset artistic yang dilakukan oleh tim artistik KSB ULM. Saya masuk pada tiga bagian utama cerita tersebut yang pertama jelas adalah Datu Abulung sebagai sosok sentral. Kedua adalah Kesultanan Banjar yang menjadi latar utama dalam pertunjukan ini dan yang terakhir adalah syech Arsyad Albanjari yang hadir ditengah-tengah persoalan Datu Abulung.

KSB ULM mementaskan sebuah karya yang berdasarkan pada biografi Syech Abdul Hamid Abulung. Seorang ulama kharismatik yang memiliki sudut pandang “eksentrik” terhadap keyakinannya dalam beragama yakni wahDatul wujud. Penulis naskah teater ini adalah Faisal Refki yang berdasarkan pada riset literasi (1) Manakib DatuAbulung, Tiga Sahabat Kandangandan (2) Datu Abulung “Korban Politik Penguasa”, Fahruraji Asmuni. Selain melakukan tinjauan literasi, dari hasil diskusi setelah pertunjukan diketahui bahwa mereka juga melakukan observasi dengan Juriat Datu Abulung di Kalimantan Selatan.

Alur cerita yang dibangun oleh sutradara Surya Hadi (kemudian hanya akan saya sebut dengan Hadi) berlatar istana sentris menggambarkan bagaimana politik kesultanan Banjar mampu membangun perspektif bersalah terhadap Datu Abulung. Pihak kesultanan Banjar yang memiliki seorang pemikir Islam yang kuat seperti Syech Arsyad Al-Banjari juga tidak memberikan kesan yang kuat beliau sebagai seorang ulama di masanya. Syech Arsyad seperti tidak mampu beradu argumentasi secara pengetahuan ke-Islamannya dengan Sultan Tahmudillah 2 dan Mangkubumi Ratu Anom Ismail sehingga selalu saja menyerahkan keputusan tanpa ada argumentasi kepada Sultan dan Mangkubumi. Padahal secara jelas dapat diketahui bagaimana posisi seorang Syech Arsyad dalam lingkungan Kesultanan hingga terjadinya tragedi penghukuman terhadap Datu Abulung. Secara garis besar ceritanya bergerak pada wilayah tersebut dengan tempo alur yang berjalan lambat tanpa banyak spektakel-spektakel yang memberikan kejutan bagi penonton baik secara simbolik mampun secara dialog verbal.

Pada pembahasan ini saya akan melakukan uji korelasi antara giat riset dengan capaian pertunjukan. Pada konteks penciptaan karya seni tentu karya seni adalah sebuah kesimpulan. Sehingga apa yang dilakukan pada saat riset menjadi tergambar pada karya yang disajikan.

Pada pertunjukan tersebut digambarkan bahwa cerita Datu Abulung berada pada pusaran Kesultanan Banjar dan Syech Arsyad Albanjari. Hal ini kemudian diperkuat dengan bentuk sajian karya yang mengambil latar di keraton Kasultanan Banjar. Namun sangat disayangkan pada konteks kesultanan Banjar sendiri seperti hanya dianggap pendukung saja yang kemudian bisa dilihat bagaimana pertunjukan itu tidak mampu memberikan gambaran tentang kesultanan Banjar, adab dan adat masyarakat keraton hingga pada wilayah penggambaran seorang sultan yang seharusnya punya aspek-aspek pendukung yang kuat dalam lakon, dialog dan gagasan yang dibangun. Dalam konteks budaya Banjar sendiri, tidak dibenarkan membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi di watun. Urang Banjar apalagi dengan status social yang tinggi seperti Sultan beserta para aparatnya tentu punya adab khusus dalam melakukan siding kerajaan. Ini kemudian hanya dibuat santai dengan latar watun istana yang barang tentu akan menimbulkan kegamangan bagi orang-orang yang menyadari posisi dan tata adab keraton.

Selayaknya riset Datu Abulung tidak hanya berada pada wilayah Datu Abulung itu sendiri. Perlu melakukan riset juga terhadap Kesultanan Banjar dan pada wilayah Seych Arsyad AlBanjari agar kemudian tidak terjadi missing link. Mengapa demikian? Hal ini tentu saja karena latar belakang karya ini sangat besar muatan sejarah yang tidak bisa melupakan sisi-sisi yang saling berkaitan dengan subjek utamanya yakni Datu Abulung. Saya melihat karaktter Datu abulung dibuat jomplang dengan Syech Arsyad Al Banjari. Terutama pada bagian oembangunan suasana musikal. Setiap Datu Abulung masuk set pementasan selalu diiringi dengan Dzikir yang dinyanyikan secara koor. Namun sebaliknya hal tersebut tidak berlaku bagi syech Arsyad Albanjari. Kejomplangan ini seakan memberikan gambaran betapa berbedanya kemulian dua orang tersebut. Hal ini tentu berada karena sudut pandang kreator hanya tersudut pada Datu Abulung, tidak pada tokoh lainnya. Padahal seharusnya kreaotr mampu menghadirkan suasana dan posisi yang sama dengan gaya yang berbeda.

Lebih parah lagi adalah karya biografi seperti ini yang berlatar sejarah tidak ada sama sekali memberikan keterangan untuk para apresiator tentang masa kejadian cerita itu. Penonton seperti diajak menebak-nebak tahun berapa persoalan itu terjadi. Ini tentu saja juga kemungkinan besar karena luput dari pengamatan para “peneliti” pertunjukan Datu Abulung dan ada kemungkinan juga bahwa itu tidak begitu dianggap penting. Padahal itu merupakan bagian kecil yang mampu membangun interaksi nuansa pertunjukan.  Periodesasi dalam sebuah karya yang berkonteks sejarah merupakan bagian terpenting. Setidaknya hal semacam itu muncul dalam penyampaian awal atau dalam bungkusan pertunjukan.

Banyaknya versi cerita yang menyelimuti keberadaan sosok Datu Abulung menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengumpulan data. Menentukan kebasahan data kemudian menjadi bagian yang sangat penting. Hal semacam ini tidak bisa dilakukan hanya dengan sekali datang kemudian pulang. Sikap seorang peneliti tentu akan sangat diragukan. Seorang peneliti bahkan seharusnya harus rela tinggal menetap dan kemudian berguru kepada para tokoh yang memang mengetahui sosok Datu Abulung. Inilah yang dimaksud dengan insider atau partisicipan of Observer. Hal ini tentu saja untuk menyingkap segala hal yang ada pada Datu Abulung. Sosok yang menurut khalayak ramai ini sangat kontroversial tentu juga menyimpan banyak rahasia. Kerahasian ini tentu saja menjadi barang yang eksklusif dan tidak sebarang orang dapat diberitahu. Merujuk pada pertunjukan Datu Abulung tersebut, hal-hal yang bersifat eksklusif ini seperti tidak tergambarkan dan tidak Nampak baik dalam bentuk teks dialog maupun teks simbolik dalam ruang karya tersebut.

Pertanyaan sederhana saya kepada sutradara saat diskusi mengenai pemilihan actor juga menjadi bukti bahwa karya ini dibuat memang hanya untuk menjalankan program kerja organisasi semata. Saat itu saya bertanya, “jika ada sosok yang menurut anda lebih cocok memerankan Datu Abulung dan Syech Arsyad Albanjar, siapa yang akan anda pilih? Anggota KSB kah Atau Orang tersebut?”. Sutradara dengan tegas menjawab tetap memilih anggota KSB.  Menjadi sutradara tidak bisa memilih actor berdasarkan kedekatan personal, insting sutradara tentu bermain untuk menemukan siapa yang pantas memerankan tokoh-tokoh yang akan digarapnya. Pemilihan tersebut tentu juga berdasarkan dari hasil observasi ketika melakukan riset tokoh-tokoh tersebut. Apapun alasannya pertunjukan merupakan gambaran kreatornya, seperti apa karyanya maka seprtti itulah cara fikir kreatornya dan yang terakhir menjadi sangat tidak masuk akal dan terlihat seperti pembodohan terhadap penonton jika kreator selalu berasalan bahwa ketidakbagusan karya karena waktu yang singkat. Kreator harus mampu mengatur dan memperhitungkan sebarapa lama proses riset, eksplorasi dan penciptaan karya tersebut. Karya karya adalah anak dari kreator.

Banjarbaru, 26 Oktober 2018

Novyandi Saputra

Direktur NSA Project Movement

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here