Sel. Jan 19th, 2021

Sanggar Batuah Gelar Pertunjukan Teater Soroti Kinerja Media

3 min read

BANJARMASIN, KK – Informasi mampu mendesain pikiran, membolak-balik logika, lalu mempengaruhi massa dengan jumlah yang tak terbatas, untuk mengikuti wacana yang diinginkan.

Informasi menjadi penentu, akankah seseorang akan mendapat empati dan pembelaan atau justru dimusuhi, ditakuti dan dilawan. Informasi juga menjadi penentu, akankah sebuah kebenaran bisa dilihat sebagai kebenaran atau justru sebaliknya, kebenaran tampak sebagai keburukan.

“Siapa yang menguasai dunia informasi, dialah sesungguhnya yang akan menguasai dunia,” demikian pepatah ini begitu masyhur kita dengar, pepatah yang melukiskan akan besarnya kuasa media informasi.

Karena besarnya kekuatan dunia informasi, terkadang si penyampai informasi menjadi korban dari sebuah korporasi informasi yang menguasainya. Berangkat dari kondisi ini tersebut, Sanggar Batuah Kalsel mengangkatnya dalam sebuah pementasan teater karya Roy Bachtiar Kamil di Gedung Kesenian Balairung Sari Taman Budaya Kalsel, Minggu (15/1/2017).

Pementasan ini menceritakan bagaimana dengan mudahnya sebuah media bisa dikendalikan oleh orang-orang yang punya kepentingan. “Sengaja saya singgung masalah itu karena saat ini media sangat vital peranannya dalam masyarakat,” ujarnya.

Itulah kenapa dirinya mengangkat naskah ‘Sesuatu di Pertengahan’, merujuk pada peran media itu sendiri yang berada di tengah-tengah antara Masyarakat dengan kejadian.

Pria yang akrab disapa Judur ini menyayangkan, saat ini banyak pihak yang menyalahgunakan peran dan fungsi media sebagai alat untuk kepentingan pribadi. Selain itu juga saat ini mulai marak kabar hoax, dan adanya semacam pengalihan isu.

“Saat ini orang cuma tahu dari berita aja. Kalau dia malas mencari tahu lebih dalam, maka ada kemungkinan dia akan disesatkan oleh media. Akibatnya apa, kepedulian orang terhadap media sudah barang tentu menurun,” jelas Judur.

Diakui Judur, peran sebagai wartawan bukan hal yang mudah. Di satu sisi seorang wartawan harus dituntut jujur dalam memberitakan suatu kejadian. Namun di sisi lain, ada beberapa hal yang membuat wartawan tersebut lebih berpihak pada narasumber, sehingga pemberitaan tidak lagi netral.

“Ketika seorang wartawan menemukan hal yang menurutnya salah, maka akan muncul muncul naluri memberontak dari dirinya, tapi tetap tidak bisa karena ada yang lebih berkuasa, pada akhirnya ia jadi kambing hitam. Namun pada akhirnya ini akan jadi bumerang dan mempersulit posisinya sendiri,” lanjut Judur.

Di akhir obrolan, Judur berharap kepada seluruh awak media supaya bisa menyajikan berita secara jujur dan sesuai fakta yang ada di lapangan. Selain itu dirinya juga berpesan kepada masyarakat supaya lebih selektif dalam menyikapi sebuah pemberitaan.

“Saya berharap kepada kawan-kawan jurnalis baik itu media cetak maupun elektronik supaya bisa jujur. Dan juga kepada masyarakat jangan sembarang percaya pada setiap berita yang ada. Kaji dulu, kalau perlu sampai ke sumbernya biar akurat,” kata Judur.

Pada kesempatan yang berbeda, Wartawan Kabar Kalimantan meminta komentar dari salah satu Jurnalis Kalsel yang juga sebagai pelaku seni, A Rahman A yang biasa disapa Araska Banjar.

Ia menanggapi positif terhadap jalan cerita dalam pementasan ‘Sesuatu di pertengahan’, sebuah fenomena idealisme jurnalistik seorang wartawan yang menjadi korban dari korporasi media informasi. Suatu kondisi yang memang kerap terjadi.

Araska menjelaskan, bahwa pada dasarnya apabila seorang wartawan benar-benar memahami perannya sebagai seorang jurnalis dan benar-benar berpegang pada kode etik jurnalistik, maka tangan penegak hukum tidak akan bisa menjamahnya, sebelum memang benar-benar dinyatakan bersalah oleh Dewan Pers. Karena profesi wartawan dilindungi oleh Undang Undang.

Araska juga memangggapi perkataan Judur, bahwa sepatutnya Judur lebih dulu melakukan riset terhadap dunia jurnalistik, begitu pula kalau membuat naskah teater dan kalau perlu bertanya langsung dengan para jurnalis itu sendiri, karena dunia jurnalistik itu sangat kompleks. Apalagi berbicara tentang media, apabila kurang penjelasan maka akan menjadi bias.

Saat ini, ujar dia, yang namanya media massa itu sangat beragam, ada media massa jurnalistik dan ada pula media massa sosial. Untuk media massa jurnalistik baik itu media cetak, media elektronik, maupun media online, ada yang benar-benar media massa jurnalistik resmi, ada media massa jurnalistik yang abal-abal.

Ditambahkan dia, kriteria jurnalis atau wartawan saat ini juga beragam, ada jurnalis yang resmi dari media massa jurnalistik dan ada jurnalis dari masyarakat yang disebut dengan jurnalisme warga (citizen journalism) yaitu kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita.

Apabila sudah menyangkut media sosial, maka semuanya kembali kepada masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus bisa memilah mana informasi yang benar mana informasi yang salah. mud

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.