Sarmela dan ‘Gandut’ yang Berakhir di Tumpukan Sampah

177

KabarKalimantan, Banjarmasin – Kesenian tradisional umpama hidup segan mati malu-malu. Seperti kesenian Gandut yang populer pada masanya, tenggelam dalam kebimbangan sebuah penerimaan masyarakat.

 

Hiburan pra pentas Sendratasik Berkarya pada Jumat (3/1/2020) malam seolah mengingatkan kembali persoalan yang menimpa kesenian tradisional di zaman sekarang. Lewat karya tari eksploratif, pesan-pesan yang ditujukan untuk refleksi disampaikan dari salah satu apresiator.

 

Salah satu penampil di kegiatan tahunan Mahasiswa Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) FKIP ULM itu adalah Siti Sarmela Hedriyani. Gadis Barikin kelahiran 2001 yang saat ini menempuh pendidikan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu membawakan karya berjudul ‘Gandut’.

 

Seperti judulnya, penampilan puteri Almarhun Maestro Seni Tradisional Kalimantan Selatan AW Sarbaini itu memang mengusung wacana soal eksistensi kesenian tradisional di Banua. Gandut, salah-salah akan benar-benar punah jika tidak disikapi dengan bijak. Atau tetap ada, tapi dengan penyimpangan nilai dan norma yang dikandung Gandut itu sendiri.

 

Kesenian tradisional Gandut menurut Sarmela, mendapat lebih banyak pandangan negatif dari masyarakat. Alih-alih menjunjung nilai positifnya, jadi penari Gandut malah dianggap momok bagi sebuah keluarga.

 

“Gandut dianggap seperti biduan genit,” katanya.

 

Pada masanya, kesenian Gandut memang luar biasa populer. Banyak bintang lokal yang muncul lewat kesenian tersebut. Bagi penikmatnya, menari dengan “panggandutan” sudah serasa jadi orang paling berpengaruh. Seperti digambarkan Sarmela, menjadi Panggandutan atau penari Gandut jadinya sudah seperti primadona.

 

Sampailah pada suatu ketika, norma yang berlaku di masyarakat menjadi lebih erat. Hal yang berbau erotis dianggap tak layak jadi tontonan. Redup lah kejayaan kesenian Gandut .

 

Sarmela kemudian menggambarkan akhir kejayaan Gandut itu lewat simbol-simbol gerak yang dramatis. Ia tiba-tiba tergeletak dalam tumpukan daun-daunan sampah usai lelah melakoni Tarian Gandut.

 

Bagi Sarmela, penonton bebas memaknai adegan itu. Ia sendiri membuat eksplorasi tersebut agar bisa menjadi perenungan bersama.

 

“Itukan simbol, terserah bisa diinterpretasikan seperti apa. Tapi keadaan Gandut itu seperti itu,” katanya.

 

Karya kontemporer yang ditata Sarmela itu hanya penggambaran dari keadaan yang ia tangkap. Lewat apa yang ada disekitar, Sarmela menciptakan gerak-gerak yang simbolik.

 

Sarmela lahir dari keluarga pegiat seni tradisional. Karena itulah tentu dirinya punya kaitan kuat dengan isu-isu kebudayaan di sekitarnya. “Sejak kecil menari Topeng Banjar,” katanya.

 

Mengemasnya dengan gaya kontemporer dan baru bukanlah untuk meninggalkan apa yang sudah mengakar sebagai tradisi, tetapi upaya menyampaikan pesan-pesan kebudayaan itu sendiri agar mudah dicerna generasi terkini. ‘Gandut’ Sarmela adalah salah satunya.

 

Menimba ilmu di Jurusan Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI), Sarmela ingin kesenian di Banua bisa berkembang. “Mengembangkan kesenian tradisional tentu juga harus mempelajari terlebih dahulu semua tentang kesenian tersebut,” ujarnya.

 

Reporter : M Ali Nafiah Noor

Editor : Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab : M Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here