Sebab Kerupuk Semakin Terpuruk (2)

479

KabarKalimantan, Marabahan– Pamor kerupuk pipih Marabahan makin meredup. Hamni dan Hamdatul Aisyah hanyalah satu contoh pelaku usaha yang telaten menekuni usaha kerupuk pipih. Kini, mereka memperkaya jenis produk olahan kerupuk, seperti kerupuk nasi dan haruan. Aisyah menjadikan dua produk ini sebagai alternatif di tengah melambungnya harga kerupuk pipih.

Sebelum tahun 2010, kata Hamni, itulah masa kejayaan industry rumahan kerupuk pipih asal Bakumpai. Pelaku usaha gampang membeli bahan baku kerupuk. Ia pun membentuk Kelompok “Berkat Usaha” yang menaungi 10 pelaku usaha kerupuk pipih. Dibentuk pada 2007, kelompok ini sukses menggondol title juara I kategori pengolahan perikanan tingkat Provinsi Kalimantan Selatan pada 2008, setelah berinovasi meramu kerupuk dengan mengaplikasikan pola higienis.

Kerupuk nasi buatan Aisyah dibanderol Rp 6 ribu per bungkus dan Rp 20 ribu per bungkus untuk kerupuk haruan. Adapun kerupuk pipih dipatok sehargaRp 25 ribu per bungkus. Khusus kerupuk pipih, ia rata-rata menjual kisaran 300-400 bungkus per bulan. Tapi, kata Aisyah, ”Masih banyak yang beli kerupuk nasi karena lebih murah.”

Lantaran harga mahal itulah, Aisyah melihat ada pergeseran segmentasi peminatnya. Kata Aisyah, kalangan menengah ke atas lebih mendominasi pembelian kerupuk pipih. Beruntung ia punya jaringan penjualan lewat pelanggan tetap dari sejumlah penjurukota, seperti Marabahan, Banjarmasin, dan Banjarbaru.

Selain menunggu orderan pelanggan, Aisyah menyuplai kerupuk pipih ke kios-kios sembako di Pasar Wangkang. Gurita jaringan pemasaran membuat kerupuk olahan Aisyah tetap dicari oleh para pelanggan. Sadar atas kualitas produk, Aisyah pun menempelkan logo halal lansiran Majelis Ulama Indonesia di bungkus produk penganan buatannya. Logo halal ini sudah tertera sejak 1,5 tahun lalu. “Dua tahun pertama gratis.Tapi setelah itu, saya harus bayar Rp 2,5 juta setiap dua tahun sekali.”

Tak ingin pelit ilmu, Aisyah berbagi resep cara mengolah kerupuk pipih. Langkah awal mencampur daging bagian atas sirip dengan tepung, penyedap rasa, garam, dan telur. Aneka campuran bahan baku ini diolah manual dalam adonan. Beres mengaduk, hasil olahan bahan baku dibentuk bantalan segi empat menyesuaikan ukuran. Bantalan olahan lantas direbus selama tiga-empat jam.

Tahap berikutnya mendinginkan bantalan yang direbus, sebelum dijemur seharian. “Kalau ada mendung, jemurnya bias dua-tigahari,” ujarAisyah, seraya menambahkan, ”Lalu dipotong tipis-tipis setelah enggak ada kandungan airnya. ”Kualitas penjemuran berdampak terhadap masa kadaluwar sakerupuk. Aisyah menjamin produk olahannya bertahan hingga enam bulan tanpa bantuan bahan pengawet. “Jemurnya harus lama,” ujar wanita berijilbab ini.

Diananta Putra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here