Sebab Kerupuk Semakin Terpuruk (1)

216

KabarKalimantan, Marabahan- Keramba di mulut Sungai Negara itu terbagi dua lubang sama besar dengan ukuran setiap lubang 2×2 meter. Satu lubang keramba kosong melompong. Adapun satu lubang lainnya dibuat budidaya gurami. Si pemilik, Hamni, semula merancang keramba untuk budidaya ikan belida alias ikan pipih. Belum sempat menuai hasil, Hamni keburu menelan kerugian setelah kematian missal ikan pipih. “Satu lubang kosong, belum ada modal lagi,” kata Hamni, seorang warga Kelurahan Lepasan, KecamatanBakumpai, Kabupaten Barito Kuala.

Ia sempat merintis budidaya ikan pipih pada 2013. Kala itu, Hamni merogoh kocek Rp 15 jutaan untuk membeli kebutuhan 2.500 benih ikan, membikin dua lubang keramba plus pakan ikan selama setahun. Menginjak enam bulan ikan dipelihara, seingat Hamni, amuk limbah mencemari perairan Sungai Barito menjelang akhir 2013. Air yang semula kecoklatan, bersalin warna kehijauan. Alhasil, ribuan ikan pipih yang belum sempat dipanen itu ludes dihantam limbah.

“Ikannya mati semua.Mungk ini limbah perkebunan sawit, air Sungai Barito sekarang rusak tercemar sawit,” ujar dia.

Hamni seharusnya butuh setahun memelihara ikan pipih sebelum dipanen. Berkaca peristiwa pada 2013 silam, kata Hamni, limbah tiba-tiba menyelusup di perairan Sungai Barito. Nestapa tiga tahun lalu masih menggores benak Hamni. Ia pun jera berbudidaya ikan pipih akibat kualitas Sungai Barito tak menentu ketika musim penghujan. Itu sebabnya, di tengah ketidak pastian, Hamni Cuma mengi sisa satu lubang keramba dengan ikan gurami – yang masa panennya lebih singkat dan irit modal.

Hamni kepincut budidaya ikan pipih demi mengamankan bahan baku kerupuk buatannya seiring kesulitan mendapat bahan baku sejak 2011. Sayangnya, usaha rintisan budidaya ikan pipih keburu kolaps. Kini, lima tahun sudah ia seret memperoleh pasokan ikan pipih. Beruntung, keluarganya tak patah arang melestarikan pembuatan kerupuk pipih di tengah keterbatasan bahan baku.

Keahlian Hamni diteruskan oleh anak perempuannya, Hamdatul Aisyah. Aisyah menekuni pengolahan kerupuk pipih sejak 2008. Ia merasakan ada penurunan minat warga Lepasan membuat kerupuk pipih seiring melonjaknya harga bahan baku ikan. Aisyah misalnya, yang mesti menebus Rp 140 ribu untuk satu kilogram daging ikanpipih. “Sekarang mengandalkan pedagang ikan di Pasar Wangkang. Kalau daging ikan pipih dating dari Palangkaraya, pedagang langsung telepon saya,” ujar Aisyah.

“Usaha kerupuk jangan sampai menyatu dengan rumah. Tempatnya harus terpisah,” ujar Hamni berbagi resep. Dengan membentuk kelompok, mereka menerima banyak keuntungan seperti bantuan modal dan pelatihan usaha. Tapi di tengah aneka keuntungan itu, toh sebagian anggota kelompok tetap menutup lapak dan alih profesi lantaran kesulitan mendapat bahan baku. Kalaupun ada yang mengolah kerupuk pipih, Hamni berujar, “Itu menyesuaikan pesanan dan harganya pasti mahal. (Bersambung)

Diananta Putra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here