Sempat Berkonflik, Ulama Sugianor dan Kades Kusairi Berdamai

409
Kepala Bakesbangpol Kalsel, Taufik Sugiono (kanan) dan ulama Sugianor di kediaman Sugianor. Istimewa for redkal.com

KabarKalimantan, Marabahan – Ulama Sugianor A. Fajar dan Kepala Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kusairi, sepakat menyudahi perseteruan di antara keduanya. Kepolisian Resor Banjar menginisiasi kesepakatan damai itu di Markas Polres Banjar pada Rabu pekan lalu.

Menurut Sugianor, kesepakatan damai atas inisiatif Kusairi yang ketakutan laporan atas dugaan penganiayaan dan segeret dugaan pidana lainnya, berbuntut panjang. Sugianor dan koleganya, Ramhansyah, sempat melaporkan Kusairi ke Ditreskrimum Polda Kalsel atas dugaan penganiayaan, pencemaran nama baik, perusakan, dan pengancaman.

Tapi, polisi cuma memproses laporan penganiayaan dengan korban Rahmansyah. Belakangan, Polda Kalsel melimpahkan pengusutan kasus tersebut ke Polres Banjar. Kusairi, kata Sugianor, meminta Kepala Satintelkam Polres Banjar, Ajun Komisaris Teguh Siswoyo, mendatangi kediamannya untuk meredam kisruh yang berpangkal dari surat Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, yang menunjuk Sugianor mengawasi Dana Desa lewat dakwah agama.

Baca Juga :   IWO Dukung Upaya Damai Ulama Sugianor-Kades Kusairi

“Kusairi memohon maaf atas kekhilafan lewat Intelkam Polres Banjar, dan polisi mendatangi rumah ulun (saya). Kusairi ketakutan kalau kasusnya dilanjutkan, polisi minta saya mencabut laporan itu,” kata Sugianor A. Fajar kepada KabarKalimantan, Minggu malam (5/11/2017).

Adapun penasehat hukum Kades Kusairi, Aspihani Ideris, melontarkan pernyataan bahwa Sugianor yang berinisiatif menyudahi kisruh. Melalui pesan WhatsApp, Aspihani menuliskan,”Akhirnya Sugianor lewat pihak Polres Banjar mengundang pembekal Kusairi mengajak damai dan mengakui kekeliruannya. Sebagai seorang muslim, kami bersedia memaafkan kekeliruannya. Dan mudahan di kemudian hari, Sugianor tidak berbuat kesalahan lagi. Amin.”

Melihat pesan semacam itu, Sugianor menyanggah pengakuan Aspihani Ideris. Ia tak segan mempersoalkan lagi kasus Kusairi bila publik berasumsi seperti pengakuan Aspihani.

“Saya tidak pernah meminta maaf. Kalau saya dibilangi minta maaf, perkara kami teruskan,” ujar Sugianor.

Kasatintelkam Polres Banjar, Ajun Komisaris Teguh Siswoyo, turut membantah pernyataan Aspihani. Teguh mengakui telah berinisiatif mendamaikan konflik antara ulama Sugianor dan Kusairi. Menurut Teguh, polisi mengantisipasi potensi konflik apabila kasus ini terus menggelinding.

Baca Juga :   Kisruh Ulama Sugianor, Pengacara: Tidak Ada yang Benar

“Saya berinisiatif mempertemukan kedua belah pihak. Keduanya sudah menyadari dan mencegah konflik sosial. Tidak ada saling menyalahkan, semua menyadari kesalahannya,” kata AKP Teguh.

Toh, Sugianor tetap meminta Kusairi menyatakan permintaan maaf tertulis untuk mencabut berkas laporan atas nama pelapor Ramhamsyah. Menurut Sugianor, kesepakatan damai tidak serta merta membatalkan proses hukum yang sudah berjalan di kepolisian.

“Surat kesepakatan belum cukup. Ingat, ada istilah ‘Damai silahkan, tapi hukum tetap jalan’. Saya yakin, ada yang memprovokasi, yang membuat hal-hal tidak kondusif di Sungai Tabuk,” Sugianor berujar.

Adapun Kades Kusairi menuturkan kesepakatan damai itu atas dasar mencegah konflik yang lebih luas di masyarakat. Menurut Kusairi, kisruh itu dipicu miskomunikasi antara ia dan Sugianor. “Ini hanya salah paham saja, kok,” kata Kusairi.

DIANANTA PUTRA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here