Jum. Okt 23rd, 2020

Sempat Dianggap ‘Hijau’, Mardani Makin Berkilau

5 min read

 

Oleh: M Ridha

Pesona Mardani H Maming sangat luar biasa. Keberhasilannya memimpin Tanah Bumbu selama dua periode menjadikan warga Bumi Bersujud jatuh cinta.

Ya, di era kepemimpinan Mardani, Tanah Bumbu mengalami sejumlah kemajuan besar. Infrastruktur dibangun dengan luar biasa. Sektor pendidikan dan kesehatan juga sangat memanjakan masyarakat di sana. Selain itu, bidang-bidang lain seperti pertanian, perkebunan, UMKM, serta yang lainnya mengalami peningkatan yang sangat baik. Bidang keagamaan juga berkembang sangat baik menjadikan kehidupan masyarakat Tanah Bumbu semakin religius.

Tokoh muda Banua ini memang luar biasa. Usai melepaskan jabatan sebagai bupati, pesona Mardani tidak mati. Ia bahkan semakin membuat bangga warga Tanah Bumbu dengan menjadi tokoh di level nasional. Saat ini ia merupakan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi). Tak heran, prestasi besarnya ini membuatnya dipuja warga Tanah Bumbu dan Banua.

Perjalanan Mardani hingga meraih sukses seperti sekarang sangat menarik untuk diikuti. Mardani yang marupakan adik dari Syafruddin H Maming adalah anak dari H Maming. Ia lahir di Batulicin 17 September 1981. Ia mengenyam pendidikan di SDN Batulicin, SMP Batulicin, dan SMA Karangrejo 1 Tulungagung. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum  Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Saat ini Mardani telah menyelesaikan pendidikan S2 Ketahanan Nasional di Universitas Brawijaya, Malang, dan menempuh S3 Ilmu Sosial/Politik di Universitas Airlangga, Surabaya.

Sejak dulu, Mardani dikenal sebagai anak muda yang sangat piawai dalam berbisnis. Selain bisnis, ia juga aktif di dunia politik. Mardani dikenal sebagai anak muda yang punya kepekaan tinggi terhadap kehidupan sosial.

Hal ini kemudian mendorongnya untuk lebih total terjun ke dunia politik. Akhirnya, dengan iringan restu kedua orang tua Mardani makin mantap terjun ke dunia politik. Mardani bahkan pernah mengatakan, keberaniannya bertarung di dunia politik dalam usia muda berkat dukungan dan motivasi besar dari sang ayah. H Maming sendiri saat ini telah meninggal dunia. Ia tutup usai pada Rabu, 23 Maret 2016.

Mardani memulai karier politik dengan bernaung di Partai Kebangkitan Bangsa. Ia bahkan sempat didaulat sebagai Ketua DPC PKB Tanah Bumbu. Namun, setelah muncul perpecahan di tubuh PKB yakni terbaginya dua antara PKB kubu Gusdur dan Muhaimin Iskandar, Mardani akhirnya memilih hijrah ke PDIP. Pada 2009 pemili legislatif, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Tanah Bumbu di daerah pemilihan (Dapil) 1 dengan nomor urut 2. Langkahnya pun mulus, Mardani terpilih sebagai anggota DPRD Tanah Bumbu.

Setahun berselang, Mardani mendapat banyak dukungan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Tanah Bumbu. Tentu saja, bukan tanpa saingan. Ada beberapa nama lain di PDIP yang juga dikabarkan akan mencalonkan diri. Namun, dengan berbagai usaha dan tawakal, akhirnya ia mendapat restu dari Ketua Umum PDIP Perjuangan Megawati Soekarno Putri untuk maju sebagai calon bupati Tanah Bumbu. Dirfiadi Darjat yang memiliki latar belakang birokrat dipilih menjadi pendamping Mardani.

Akhirnya, KPUD Tanah Bumbu menetapkan Mardani-Difriadi Darjat sebagai calon bupati-wakil bupati Tanah Bumbu bersama tiga pasangan lainnya yakni, Burhanuddin-Surinto yang diusung Golkar, PKS, DAN PBB, M Iqbal Yudianoor-Muhammad Hasby diusung Demokrat, Gerindra, PPP, PAN, dan PBR, serta Hamsury-Sartono yang diusung Partai Kedaulatan, PKB, dan Hanura.

Langkah Mardani berikutnya tentu tidak mudah, banyak isu berkembang yang menyatakan Mardani masih terlalu ‘hijau’ dan tak layak menjadi seorang bupati. Namun, bukan Mardani namanya kalau mudah menyerah dengan hembusan isu yang memojokkan dirinya. Mardani malah makin bersemangat, dengan jargon ‘Yang Muda Yang Peduli’ ia terus menyusup masuk ke akar rumput untuk meyakinkan warga Tanah Bumbu bahwa ia datang untuk membawa perubahan dan kemajuan bagi Bumi Bersujud.

Perjuangan hebat Mardani rupanya mendapatkan simpati besar dari masyarakat. Ia pun mendapatkan kursi orang nomor satu di Tanah Bumbu. Mardani mengungguli tiga pasangan calon lain. Ia memang sempat mendapat perlawanan dari pasangan Hamsury-Sartono hingga Pilkada digelar dua putaran. Namun, pada putaran kedua Mardani kembali unggul dengan perolehan 67.993 suara atau 57,53% dukungan, sementara pasangan Hamsury-Sartono hanya mendapatkan 50.191 suara atau 42,47%. Hamsury sendiri merupakan kakak dari Zairullah Azhar yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Tanah Bumbu.

Kesuksesan Mardani terpilih sebagai Bupati Tanah Bumbu sangat menghebohkan. Bagimana tidak, dengan usia yang relatif sangat muda, ia mampu menjungkalkan politisi-politisi senior di Tanah Bumbu. Saat itu ia dinobatkan sebagai bupati termuda di Indonesia. Saat dilantik sebagai bupati pada 20 September 2010 usia Mardani baru 29 lebih tiga hari. Ia pun tercatat dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (Singkatan sebelumnya Museum Rekor indonesia).

Perjalanannya sebagai bupati pun dimulai. Banyak hal yang ia benahi saat menjabat sebagai bupati. Mardani mengusung tiga program utama yakni pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Ia menyebut, programnya itu sebagai tri dharma pembangunan. Dalam hal laporan keuangan ia juga melakukan banyak pembenahan. Bahkan, sejak 2013, Tanah Bumbu untuk pertama kalinya mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan. Sebelumnya, opini ini belum pernah diraih Tanah Bumbu.

Mardani juga mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah pusat atau pun pihak lain yang kredibilitasnya dalam memberikan penghargaan mendapatkan pengakuan sahih. Diantaranya,  Innovative Government Award dari Mendagri pada 2013, Tokoh Muda Beprestasi dari Jawa Pos pada 2013, SIKOMPAK AWARDS sebagai Pembina Terbaik Nasional PNPM Mandiri Perdesaan Kategori Perencanaan Pembangunan Desa (PPD) Aspek Tata Kelola Desa Tahun 2014 dari Wakil Presiden RI, serta berbagai prestasi lain.

Pada Pilkada 2015-2020, Mardani kembali mencalonkan diri sebagai Bupati Tanah Bumbu untuk periode kedua. Kali ini ia memilih Sudian Noor sebagai pendamping. Mardani-Sudian Noor hanya berhadapan dengan satu pasangan lain yakni H Abdul Hakim G-Gusti Chapizi. Hasilnya, Mardani-Sudian unggul mutlak dengan meraih 106.998 suara atau 79,72% suara dari 134.214 suara sah, sedangkan lawannya hanya meraih 27.216 suara.

Pada periode kedua sebagai bupati, Mardani makin menunjukan kinerja oke. Bersama DPRD Tanah Bumbu, dia menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2015 tentang Kartu Sehat dan Pintar. Kartu yang disebut Kaspin ini diberikan kepada masyarakat untuk memperoleh kesehatan dan pendidikan gratis khususnya bagi penduduk miskin. Pemkab Tanah Bumbu juga memberikan banyak beasiswa pendidikan. Mardani juga dianggap sebagai pelopor wajib belajar 12 tahun dimana daerah lain banyak yang belum menerapkannya. Pemerataan pendidikan sampai daerah pelosok juga tak lepas dari perhatiannya. Selain itu, tentu saja pembangunan di sektor lain juga berjalan dengan sangat baik.

Namun, pada 3 Juli 2018 Mardani resmi menyatakan pengunduran diri sebagai bupati. Saat wawancara dengan wartawan, Mardani menyatakan, bahwa jabatan hanyalah titipan bukan untuk selamanya. Yang paling penting menurutnya, dimana pun berada tetap bisa berbakti untuk Banua, bangsa, dan negara. Rupanya yang ia sampaikan bukan sekadar ucapan jempol belaka. Karier Mardani bukannya surut setelah tak lagi jadi bupati, ia malah makin meroket dan dikenal luas hingga tigkat nasional.

Pada September 2019, ia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode kepengurusan 2019-2022. Mardani unggul mutlak dalam bursa pemilihan Ketua Hipmi dengan 146 suara atau 95,42% dalam voting yang berlangsung pada 17 September 2019, pada Musyawarah Nasional Hipmi di Jakarta.

Nah, pada Pilkada 2020 di Tanah Bumbu, Mardani memberikan dukungan total kepada kakaknya Syafruddin H Maming sebagai calon bupati Tanah Bumbu. Syafruddin H Maming berpasangan dengan politisi muda Tanah Bumbu M Alpiya Rakhman. Banyak pihak menilai, Syafruddin H Maming akan mampu melanjutkan sukses Mardani saat memimpin Tanah Bumbu. Mereka yakin dengan istilah ‘Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya’.

 

Penanggungjawab: M Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.