Seniman Menolak Tambang

2 min read

Upacara adat suku Dayak Meratus. Istimewa

294

KabarKalimantan, Banjarmasin – Pernyataan sikap pun dideklarasikan sejumlah seniman dalam Aksi Peduli Alam Meratus (APAM). Mereka menyatakan menolak keras pertambangan di Kalsel, Minggu (28/1) malam.

Sejumlah seniman telah berkumpul dan melakukan beragam diskusi soal kondisi lingkungan dan budaya di Kalimantan Selatan. Menyikapi terbitnya Surat Keputusan Kementerian ESDM Nomor 441.K/30/DBJ/2017 tentang ijin eksploitasi batu bara di Hulu Sungai Tengah (HST), pentas seni dan doa untuk meratus pun digelar dengan tajuk “Aksi Peduli Alam Meratus”.

APAM disemarakkan dengan berbagai macam bentuk pergelaran seni dan sastra berisi aspirasi terhadap lingkungan dan budaya di Kalsel yang terancam pertambangan. Penampilan berbagai seniman lintas bidang itu sesekali diselingi dengan testimony dari sejumlah aktivis, di antaranya adalah Nurcholis Madjid dan Budi Kurniawan.

Baca Juga :   ​Teater Himasindo FKIP Unlam Hibur Pengunjung Pantai dengan Pentas Teater

Budi Kurniawan, aktivis lingkungan yang tergabung dalam Walhi tersebut memberikan pemahaman kepada masyarakat yang bergabung dalam APAM bahwa meratus terancam baik dari segi lingkungan dan budaya. Sebab, menurutnya masyarakat meratus membangun kebudayaan berdasarkan alam lingkungannya. Masyarakat meratus tidak mengenal ritual memuja batu-bara, mereka hanya memiliki ritual atas panen padi.

“Menolak pertambangan di Kalsel adalah suatu kewajiban,” ujarnya.

Kemeriahan berbagai pergelaran seni sastra, juga semangat yang berkobar dari beberapa testimony para aktivis tersebut menjadi lebih khusuk. Di penghujung acara, sejumlah seniman penggagas APAM menaiki panggung. Andi Sahluddin pun membacakan surat pernyataan sikap penolakan terhadap pertambangan di Kalsel yang telah disusun oleh sejumlah seniman. Sedikitnya ada tujuh poin yang termaktub dalam surat pernyataan tersebut.

Baca Juga :   Julak Larau Populerkan Alat Musik Kuriding Banjar pada Anak Muda dan Tetapkan Hari Kuriding

“Kalau para pihak terkait tidak bersikap tegas, berarti mereka telah mengabaikan amanat Pahlawan Nasional Pangeran Antasari yang menyatakan agar kita terus berjuang menegakkan kebenaran, menjunjung tinggi keadilan. Dalas hangit, haram manyarah, waja sampai ka puting!” ucap Andi membacakan salah satu poin pernyataan sikap dengan nada keras.

Pembacaan surat pernyataan sikap dilanjutkan dengan doa bersama. Simpatisan APAM berdoa agar meratus selalu dijaga kelestariannya oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga :   Yayasan Palatar Obrolkan Seni dan Pers

APAM sedikitnya dihadiri oleh 200 lebih simpatisan dari berbagai kalangan, baik seniman maupun aktivis lingkungan. Ketua Pelaksana APAM Maulidi NB mengatakan pihaknya sampai tak mampu menampung banyaknya simpatisan yang ingin menyumbangkan penampilan.

“Saya juga minta maaf karena tidak bisa memfasilitasi semua partisipan. Tapi saya harap pergerakan ini terus dilanjutkan kawan-kawan untuk kelestarian lingkungan dan budaya kita,” kata pria yang kondang dengan julukan Wanyi Mandarung tersebut.

M ALI NAFIAH NOOR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *