Sel. Jun 15th, 2021

Setiap Manusia Hendaknya Memahami Keunikannya

3 min read

JIKA kita berdiri di depan cermin yang besar, setinggi tubuh kita dan mencoba mengamati fisik kita, subhanallah kita manusia merupakan mahkluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa di dunia ini dibandingkan mahkluk lainnya. Manusia adalah mahkluk paling mulia yang diciptakan Tuhan. Pengertian mulia dalam konteks bahasa ini adalah sempurna, baik sebagai mahkluk individu maupun mahkluk sosial.

Manusia sebagai mahkluk individu artinya antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya berbeda, tidak ada yang sama, walau kembar sekalipun tetap memiliki perbedaan. Manusia sebagai mahkluk sosial artinya ia tidak bisa sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda antara satu dengan lainnya, artinya manusia itu unik.

Setiap manusia hendaknya memahami keunikannya, coba kita bayangkan berapa banyaknya jumlah penduduk dunia, sejak zaman Nabi Adam AS sampai sekarang ini, itu semua tidak ada yang sama, masing-masing mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Jasmani bersifat fisik, yaitu badan yang tampak oleh mata lahir kita, dan rohani bersifat non fisik atau abstrak, tidak kelihatan oleh mata lahir kita.

Setiap orang mempunyai ciri-ciri fisik maupun non fisik. Untuk hal tersebut kadang-kadang kita menyadarinya kadang juga kurang menyadarinya, sebaiknya kita bukan saja menyadari ciri-ciri dimaksud tetapi juga memahaminya, karena dengan memahami keduanya berarti kita memahami modal yang ada pada diri kita.

Untuk dapat melihat ciri-ciri fisik, kita bisa langsung melihatnya di depan cermin atau mengamati dan mengukur badan kita seperti tinggi dan berat badan, warna kulit dan bentuk muka, mata, hidung, telinga, bibir, leher, kaki, tangan, dada, pinggang, serta pinggul. Ukuran baju dan ukuran sepatu juga bisa membantu menggambarkan ciri-ciri fisik.

Ciri-ciri non fisik tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata, tetapi memerlukan pemahaman, baik pemahaman diri secara langsung oleh kita sendiri maupun pemahaman melalui penilaian orang lain, antara lain sifat diri, bakat, minat, hobi, potensi dan kemampuan. Sifat diri adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir dan cenderung menetap, walaupun demikian bisa berubah, kalau kita berusaha mengubahnya.

Sifat diri ada dua macam yaitu sifat diri yang positif dan sifat diri yang negatif. Sifat diri positif artinya kebiasaan yang baik-baik contohnya sabar, jujur, ramah, rendah hati, hemat, tidak kikir, tegas terbuka (apa adanya), periang, tekun, teliti, cermat, dan lain-lain. Sifat diri yang negatif artinya kebiasaan yang tidak baik contohnya pemarah, sombong, boros, kikir, malas, iri, dan lain sebagainya.

Setiap manusia mempunyai sifat diri yang positif dan yang negatif, kita harus memahami sifat-sifat kita, baik yang positif maupun yang negatif, sebaiknya sifat diri kita yang positif dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari supaya lebih bermanfaat, dan sifat diri kita yang negatif diperbaiki atau diperkecil resikonya, supaya tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain.

Bakat ialah anugrah Tuhan Yang Maha Esa berupa kemampuan dasar yang masih terpendam yang dibawa sejak manusia dilahirkan kedunia. Bakat masih berupa bibit atau bahan yang akan berkembang apabila didukung oleh lingkungan. Tuhan menganugrahkan bakat kepada seseorang dilengkapi dengan minatnya. Minat adalah kecenderungan seseorang atau rasa suka seseorang terhadap sesuatu.

Bagaimana caranya kita mengetahui bakat, minat dan kemampuan yang ada pada diri kita? Jawabannya yaitu dengan “pemahaman diri”. Pemahaman diri adalah suatu proses memahami diri sendiri tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Melihat bakat dan minat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita, tidak bisa dengan teropong atau kaca pembesar, tetapi harus dengan pemahaman diri.

Biasanya yang kita pahami lebih dulu adalah minat. Kita suka bidang apa , tentang apa, melakukannya bagaimana? Setelah diketahui, lalu coba dilatih, terus dilakukan berulang-ulang dengan sabar dan tekun hingga hasilnya kelihatan. Kalau Anda berbakat dalam bidang itu, Anda akan merasa senang dalam hal tersebut. Menjajaki bakat memerlukan waktu dan proses yang cukup lama.

Semakin banyak dan sering dilatih, bakat kita akan lebih cepat tampak. Bakat kita akan tampak melalui beberapa tahapan. Mula-mula berupa potensi. Kalau hal ini dilatih terus dan mendapat dukungan dari lingkungan maka akan muncul menjadi kemampuan. Kemampuan yang dioptimalkan lagi akan menjadi prestasi.

Keadaan fisik dan hal-hal yang termasuk kekuatan non fisik merupakan modal dasar dari kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan dan prestasi. Hal-hal yang termasuk kelemahan non fisik perlu diperbaiki agar tidak menghambat segala sesuatu yang mendukung tersalurnya segala kelebihan yang dimiliki oleh seseorang pada umumnya dan seluruh siswa pada khususnya.

Oleh: Lisa Andriani, S.Pd.I

Guru Matematika di SMPN 8 Satap Mantewe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.