Sungai Barito Jadi Sungai China

1201

Maraknya perdagangan lada di Banjarmasin antara 1700-1737 membuat banyak kapal dari China merapat ke perairan Banjarmasin. 

Seperti diungkapkan H Scrarieke dalam Indonesian Sociological Studies, pedagang China datang ke Banjarmasin untuk berdagang lada sejak paruh pertama abad ke-17. Itu terjadi setelah mereka diusir dari Batam dan Jambi oleh kompetitornya, yakni Inggris dan Belanda.

Kapal dagang China yang terusir dari Pulau Sumatera itu harus mengubah haluan mereka agar barang yang diinginkan bisa didapatkan. Di samping itu mereka juga harus menghabiskan barang diangkut untuk dijual.

Kabar gembira pun mereka terima dari pedagang lain, Portugis dan Makao. Rupanya ada pelabuhan bernama Banjarmasin yang menjanjikan perdagangan yang bagus.

Goh Yoon Fong mencatat, setelah mendengar informasi itu, pedagang China pun berdatangan dengan kapal-kapal berang sejumlah empat sampai tiga belas setiap tahun. Mereka berangkat dari Pelabuhan Amoy, Kanton, Kingpao, dan Makao.

Baca Juga :   150 Penari Siapkan Sendratari Hari Jadi Kota Banjarmasin

Hal tersebut rupanya juga dicatat oleh Marco Polo. Kapal-kapal China yang mengunjungi Banjarmasin dengan berat masing-masing sekitar 60 dan 100 last. Di setiap kapal terdapat 90-200 orang.

Karena konstruksinya yang kuat, kapal tersebut dapat bertahan lebih baik dari angin topan di Laut China daripada kapal Arab dan India yang lebih ringan meskipun kapal China tersebut tidak lincah.

Nahkoda-nahkoda kapal China disambut oleh orang Banjar. Menurut Goh Yoon Fong, itu dikarenakan para pedagang China membawa serta barang-barang yang sangat dibutuhkan penduduk Banjarmasin saat itu.

“Sering munculnya kapal China itu mengembangkan Banjarmasin menjadi sebuah pelabuhan yang sibuk,” tulis Goh Yoon Fong.

Bagaimana tidak, pedagang-pedagang dari berbagai negara serta dari daerah lain di Nusantara ikut terdorong untuk bertransaksi bisnis dengan orang China.

Pada awal abad ke-18, pedagang kapal China menjadi sangat penting. “Bahwa Sungai Barito juga dikenal sebagai Sungai China karena pergerakan yang sering dilakukan kapal-kapal China ke bagian sungai atas dan bawah,” tambahnya.

Baca Juga :   Hikayat Banjarmasih Menjadi Banjarmasin

M Ali Nafiah Noor

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here