Menu

Mode Gelap

Seni Budaya · 14 Mar 2019 16:23 WIB ·

Tarian Depresi SSD


 Tarian Depresi SSD Perbesar

KabarKalimantan, Banjarmasin – Sanggar Seni Demokrat (SSD) menggelar pentas tunggal di Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan pada Selasa (12/3/2019) malam. Penonton diajak untuk ikut merasakan depresi.

Pergelaran itu bertajuk “Pesawat,” akronim dari Pentas Awal Tahun. Sedangkan yang dipentaskan adalah sebuah karya tari kontemporer berjudul “Depression”.

Meski dibalut dengan nuansa kekinian, ada gerakan -gerakan yang terasa tradisionil. Sebagai komunitas seni kampus, tampilan ssd kali ini tidak meninggalkan karakter garapannya yang apa adanya. Artistik yang alakadarnya, pun tata busana yang tidak macam-macam. Semua bernuansa kelam.

Baca Juga :   Menggerakkan Kebudayaan Lewat Seni

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengangkat material artistik yang ada di sekitar mereka. Bangku-bangku kuliah, barangkali juga triplek dari bekas lemari kampus yang sudah tidak terpakai.

Gelaran “Depression” tersebut, judulnya pun berat, demikian pula dengan bahasa yang diungkapkan dalam komposisi gerak itu. Takaran wacana yang cukup relevan dengan penontonnya, mahasiswa. Sedikit banyaknya bisa menjadi alat ukur daya nalar para calon kaum intelektual Banua, seberapa kuat mereka bisa menerka laku para penari di atas pentas.

Baca Juga :   Rayakan Milad, Sanggar Lawang Adakan Lomba Mewarna

Hening yang cukup lama terjadi di pertengahan pementasan. Gerak-gerak tanpa iringan musik itu seolah meneror penonton untuk ikut gelisah. Barangkali mengajak untuk masuk dalam nuansa depresi yang ditawarkan.

Menurut sang koreografer Alriandri, karya itu merupakan buah dari eksplorasi yang mereka kerjakan sebelumnya. Depresi menjadi kata kunci pencarian ide tentang gerak-gerak yang ditampilkan.

Baca Juga :   ​Belajar Berwirausaha dengan Membuat Sasirangan di UKM KSB Unlam

“Ini Dance Theatre,” kata mahasiswa yang akrab disapa Aceh tersebut. Sayangnya tidak ada plot dramatik yang bisa ditangkap dengan jelas oleh penonton. Sepanjang pentas hanya tarian bernuansa depresi yang buram.

Pentas ini setidaknya memberi warna baru untuk gaya garapan kelompok seni mahasiswa di Kalsel. Citarasanya cukup indipenden untuk para pekerja seni di lingkaran kampus non seni.

M Ali Nafiah Noor

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Ada Pameran Lukisan di Kampung Buku Banjarmasin

23 Oktober 2020 - 20:10 WIB

Ada Pameran Lukisan di Kampung Buku Banjarmasin

Paman Birin Buka Festival Kuntau Tingkat Provinsi Kalsel

19 September 2020 - 20:32 WIB

Merasakan “Nyanyuk” di Mess L Banjarbaru

17 Februari 2020 - 13:49 WIB

Ujian, Pentas “Nyanyuk” Kembali Digelar

13 Februari 2020 - 11:11 WIB

Mengenalkan Lamut Lewat Sendratari

2 Februari 2020 - 15:40 WIB

Euforia Kemegahan ‘Karna’

7 Januari 2020 - 14:35 WIB

Trending di Etalase