Tartar, Alat Musik Kreasi Kombinasi Tarbang dan Gitar dari Kalsel

173

BANJARMASIN, KK – Gabungkan alat musik pukul tarbang dengan gitar, Julak Larau ciptakan alat musik baru. Ia menyebutnya Tartar.

Tartar sendiri merupakan akronim dari kata tarbang dan gitar. Alat musik kreasi baru ini memiliki bunyi yang khas seperti alat musik petik tradisional Banjar yakni panting.

Sekilas, bentuknya seperti banjo yaitu alat musik petik yang dikembangkan orang Afrika di Amerika Serikat.

Seperti namanya, alat musik ini merupakan gabungan atau kombinasi dari dua alat musik yang berbeda. Yakni alat musik pukul tarbang yang biasa digunakan dalam lagu-lagu islami dengan alat musik petik yang populer yaitu gitar.

Inspirasi muncul begitu saja oleh Muklis Maman atau biasa dikenal dengan Julak Larau saat melihat beberapa alat musik berserakan dan tidak terpakai dalam keadaan rusak.

Pria yang merupakan seniman sekaligus budayawan ini pun menuangkan idenya untuk membuat alat musik kreasi baru yang diberdayakan dari beberapa alat musik yang rusak tersebut. Berkat tangan kreatifnya, alat musik tartar ini pun tercipta.

Sejak 2015 ia mulai membuat tartar. Sampai saat ini telah ada lima buah tartar yang ia hasilkan. Diantaranya, dua buah tartar laku dibeli seharga alat musik panting yaitu sekitar Rp700 ribu.

“Terakhir saya buat itu adalah generasi ke lima,” katanya kepada Kabar Kalimantan saat ditemui di Taman Budaya Kalsel, Senin (2/1/2017).

Tidak hanya itu, ia juga menyebutkan bahwa saat ini tengah menyelesaikan sebuah inovasi kreatif lagi dengan membuat tartarbas. Yakni tartar yang serupa dengan gitar bass.

Sebelumnya, selain tartar, ia juga telah membuat alat musik gesek yang ia sebut tarla. Yang juga perpaduan dua alat musik yang berbeda. Yakni tarbang dan biola.

Bersama dengan kelompok musik Banua Raya Simfoni, Julak Larau memasukkan unsur alat musik tartar dengan suaranya yang khas ke dalam lagu-lagu yang diciptakannya dengan irama melayu Banjar. Ia pun bercita-cita untuk membuat pagelaran musik yang instrumennya terdiri dari alat musik sejenis tartar.

Seniman dan budayawan yang sehari-hari berkegiatan di Taman Budaya Kalsel ini juga menjelaskan, bahwa kreasi yang ia lakukan tersebut adalah untuk memberikan warna terhadap instrumen musik lokal. Menurutnya, di Kalsel, khususnya Banjarmasin, masih minim kreasi terhadap alat-alat musik.

“Daripada kita menggunakan alat musik modern, lebih baik membuat alat musik baru dengan citarasa lokal, yang teknologinya juga disesuaikan dengan zaman,” ucapnya. nfi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here