Jum. Agu 14th, 2020

Terkait Limbah Tambang Batubara di Sungai Satui, Pemkab Tanbu Menyurati Gubernur Kalsel

2 min read

KabarKalimantan, Batulicin – Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Bumbu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) inginkan pencemaran limbah dari eks lubang tambang batubara yang mengalir ke Sungai Satui akan segera berakhir pada saat ini.

 

Ketika dikonfirmasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Daerah Kabupaten Tanah Bumbu Rahmat P Udoyo oleh redkal.com, rabu (12/2/2020) mengatakan, terkait pencemaran limbah tambang batubara di sungai satui, pihak Daerah sudah beberapa kali melayangkan surat ke pihak ESDM Kalsel, namun hingga pada saat ini belum mendapat jawaban.

 

 

Rahmat mengakui, pada tanggal 6 pebruari kemarin, pihak Pemda Tanbu mengirimkan kembali surat untuk Gubernur Kalsel, dengan perihal meminta arahan dan solusi terkait pencemaran limbah tambang batubara yang terus mencemari Daerah Aliran Sungai (DAS) satui.

 

 

“Kalau tidak di tutup eks lubang tambang batubara yang berlokasi di perbatasan antara Tanah Laut dengan Tanah Bumbu itu, tidak mungkin akan berakhir pencemaran limbah tersebut,” ungkap Rahmat.

 

 

Memang pihak DLH pada bulan lalu pernah memberikan santunan sebesar Rp 30 juta kepada kelompok nelayan Satui, namun dananya itu berasal dari perusahaan sekitar, bukan dari perusahaan tambang yang mencemari sungai satui tersebut.

 

 

Rahmat menambahkan, dalam waktu dekat ini Pemerintah Daerah (Pemda) Tanbu, akan segera merealisasikan bibit ikan untuk di bagikan kepada para nelayan yang terdampak oleh pencemaran limbah tersebut, untuk di budidayakan, cuma hanya menunggu waktu yang tepat untuk hal tersebut.

 

 

Hal itu dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, supaya pendapatan dan perekonomian para nelayan yang ada di satui bisa meningkat, selain itu juga mereka hidup tidak hanya ketergantungan pada mata pencaharian di lingkungan sungai.

 

 

Terpisah, Jakir (50) salah satu nelayan sungai danau menjelaskan, bahwa kurang lebih 4 bulan ini dia tidak ada penghasilan, akibat adanya pencemaran limbah tambang batubara disungai satui, karena Ikan dan udang yang hidup di sungai ini sudah sulit di dapatkan, karena sudah banyak yang mati.

 

Jakir pun berharap kepada pemerintah daerah tidak berlarut-larut melakukan penanganan limbah. Apalagi pencemaran terjadi di sungai Satui, tidak terus berulang-ulang.

 

 

Sementara sungai Satui satu-satunya sumber penghidupan nelayan. Selain sumber air baku PDAM melayani ribuan masyarakat di wilayah Satui.

 

 

“Setelah ikan mati, jangan sampai kami yang mati,” tandas Jakir.

 

Reporter: Slamet Riadi

Editor: Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab: M Ridha

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.