Tiada Pertunjukan Bagus bagi Sutradara Arogan

251
Penampilan Teater Wasi Putih dalam Festemo 2019

(Catatan Seorang Juri pada Festemo KSB ULM)

Oleh 

Novyandi Saputra

 

Seminggu yang lalu sebuah pesta teater di gelar selama tiga hari dengan jumlah peserta 18 kelompok terdiri dari kelompok mahasiswa, umum dan pelajar. Gelaran yang dibuat oleh Kampoeng Seni Boedaja ULM ini menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu sebagai ruang ekpresi kelompok-kelompok teater di Kalimantan Selatan yang didominasi kelompok dari Banjarmasin.

Saya menjadi salah satu orang dari empat dewan pengamat yang ditunjuk panitia untuk memberikan penilaian terhadap karya-karya yang dipentas oleh 18 kelompok teater tersebut. Ada Edi sutardi, Hasby Rifani dan Bayu Bastari Setiawan sebagai sejawat saya dalam melakukan proses yuridiksi karya kawan-kawan komunitas teater. Secara spesifik saya diminta untuk mengamati konteks musik sebagai iringan, ilustrasi dan efek terhadap masing-masing karya yang di pentaskan. Sedangkan penilaian unsur-unsur lainnya dilakukan oleh tiga orang lainnya yang telah saya sebutkan di atas. Namun tentu saja persinggungan saya dengan hal-hal artistik lainnya tak bisa dihindari. Berikut saya paparkan pandangan saya terhadap beberapa hal yang masuk dalam pengamatan saya selama menjadi bagian dari tim pengamat Festival Teater Modern KSB ULM.

Saya menyadari posisi saya dalam ruang teater. Saya bukan orang yang banyak membuat musik-musik teater, namun tentu saja saya pernah mengkomposisi musik teater atau kolaborasi antar media seni lainnya. Persentuhan saya dalam ruang teater lebih banyak sebagai apresiator baik pertunjukan di banua maupun pertunjukan di daerah lain. Selebihnya saya hanya banyak terlibat pada ruang-ruang diskusi karya kawan-kawan seniman teater. Kebiasaan menonton baik teater maupun pertunjukan teater-teater dalam bentuk lain membantu saya dalam melakukan penilaian terhadap masing-masing peserta Festival Teater Modern (nama festival yang di gagas KSB ULM).

Pada wilayah konsep dan gagasan garap dari semua naskah yang saya baca, juga banyak saya temukan kegagalan dalam memaparkan isinya. Seperti yang pada umumnya saya fahami, konsep adalah abstraksi ide yang berisi tentang tujuan dan bagaiamana karya cipta akan di selesaikan. Di sisi yang lain saya memahami bagaimana kondisi para creator yang tidak terbiasa menuliskan konsep dan gagasan karyanya yang diterjamahkan dalam Bahasa yang lugas. Kenyataannya saya hanya menemukan gagasan-gagasan yang tak menggambarkan sebuah perspektif inter-subjektif terhadap apa yang akan ditawarkan atau digarap dalam karya cipta-nya. Tema yang di usung panitia kemudian terlihat sangat verbal tanpa ada upaya melakukan pembacaan kembali, re-interpertasi maupun upaya yang lebih ekstrem yakni dekonstruksi. Tema besar “pamali” yang di usung terkesan seperti tempelan dalam naskah maupun dalam pertunjukan yang dipentaskan. Saya berandai-andai, “jika kepamalian itu dihilangkan, maka sungguh tak mengurangi sama sekali esensi naskah maupun pertunjukan teater-nya”.

Beberapa pertunjukan yang telah di umumkan oleh panitia sebagai juara merupakan representasi terdekat dengan tema yang digagas. Saya secara pribadi menganggap kedekatan itu adalah keberanian dan keseriusan mereka dalam berproses menciptakan sebuah pembacaan baru terhadap pamali di era modern sekarang. Persoalan pamali tidak lagi sekedar urusan keluar rumah senja hari, petak umpat sore hari atau larangan-larangan orang tau kepada anak-anaknya. Pamali sekarang adalah urusan yang lebih kompleks tentang manusia dengan ritus-ritus terhadap alam dan tentu saja tentang bagiaman memanusiakan manusia. Pamali sekarang hadir secara kultural menciptakan bangunan baru tentang menjaga ekosistem antar sistem. Upaya dekonstruksi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok juara ini mampu membawa kita pada dimensi pamali yang lebih luas, tidak lagi pada ruang yang kecil seperti keluarga tapi beredar luas pada entitas yang besar dengan kesamaan persepsi memandang ke-adiluhungan segala hal yang terkoneksi dengan entitas tersebut.

Pada wilayah proses penciptaan karya seni secara umum saya melihat ada proses yang parsial. Proses semacam ini kemudian membuat karya yang diciptakan dalam konteks ini pertunjukan teater tidak sampai pada tujuan akhirnya. Pertunjukan seperti mengambang karena bangunan alur yang tidak selesai digarap. Banyak sekali pertunjukan teater pada festival ini yang seakan-akan mengalami kebingungan bagaimana menyelesaikan konstruksi konflik ceritanya. Celakanya proses seperti ini akan mengorbankan siapa saja yang terlibat dalam prosesnya. Proses atau treatment yang digagas sutradara akhirnya hanya sampai pada wilayah teknis, para pelaku yang terlibat tak mampu masuk dalam hal yang mendalam pada karya tersebut. Hal tersebut sangat terlihat dari pementasan dilihat dari ketubuhan, keaktoran, pembacaan ruang dan visi pertunjukan dan unsur pendukung lainnya seperti tata artistik dan tata musik yang saling tumpang tindih menutupi kekurangan-kekurangan di masing-masing wilayah tersebut. Pengamatan saya yang memposisikan diri sebagai penonton menemukan hal-hal tersebut, banyak pertunjukan yang secara gagasan dan teknis belum siap dipaksakan untuk dipentaskan. Tentu itu menjadi pembealajaran kita bersama karena layak tidaknya sebuah karya dipertemukan dengan penontonnya ada di tangan seorang sutradara.

Pada wilayah musik teater saya menemukan bunyi-bunyi yang seperti tak punya rasa tanggung jawab atas kehadirannya. Bunyi-bunyi yang seperti tidak melalui proses pembacaan karyanya. Bebunyian ini kebanyakan hadir hanya sebagai penutup kekosongan pada feed in dan feed out lampu panggung. Saya kira para sutradara faham betul posisi musik dalam pertunjukan baik sebagai iringan, ilustrasi, dan/atau efek tertentu. Musik menjadi bagian integral dalam membangun suasana dan meciptakan tiang bantu dalam membangun alur cerita dan konflik cerita. 

Pada hal lain, saya menemukan adanya upaya kelompok-kelompok teater yang menciptakan theme song atas karya pentasnya. Namun lagi-lagi sangat disayangkan posisi theme song yang hanya di akhir pertunjukan malah membuat bangunan pertunjukannya menjadi runtuh. Gagasan lagu harus berasal dari naskah karyanya bukan diciptakan di luar dari naskah tersebut. Mengapa demikian? Ini karena lagu yang diciptakan dengan pertunjukan seperti tidak sejalan, seperti berjalan sendiri-diri bahkan parahnya ada yang tidak menyatu sama sekali.  Theme song seharusnya menjadi ruh musikal yang kuat merespon karya tersebut sehingga antara karya dan lagu mampu berjalan beriringan saling isi dan menguatkan.

Satu hal juga yang penting untuk saya sampaikan adalah posisi para pemusik dengan pertunjukan karyanya. Saya kira seharusnya posisi pemusik harus berada pada jarak yang dekat dengan pertunjukannya. Namun pada gelaran festival ini jarak para pemusik dengan pertunjukannya lebih dari lima meter dan terhalang beberapa benda sepeti pagar dan dinding. Persoalan semacam ini akan sangat mempengaruhi daya respon pemusik terhadap pertunjukannya. Saya kira persoalan teknis semacam ini juga seharusnya mampu dibaca oleh panitia pelaksana maupun para kelompok teater.

Saya menyadari bahwa posisi sentral dalam proses penciptaan teater berada di tangan sutradara. Sutradara faham betul posisinya, maka seharusnya arogansi sutradara dalam melakukan proses kreatif sampai pada hal-hal teknisnya sangat mempengaruhi hasil karya yang akan dipentaskannya. Saya percaya bahwa tiada pertunjukan yang bagus lahir dari ‘rahim’ sutradara yang arogan.

Beberapa poin yang saya sampaikan di atas barang tentu merupakan hasil pandangan saya selama menjadi bagian dari tim pengamat festival teater modern KSB ULM. Kritik atau pendapat saya ini bisa jadi sangat subjektif dari kacamata dan pengetahuan yang saya memiliki. Tujuannya tentu saja sebagai bagian dari upaya menjaga tumbuh kembang proses kreatif kawan-kawan dalam ruang teater. Diskusi-diskusi saling tatap muka sangat diharapkan setelahnya agar pemahaman yang ambigu bisa dipaparkan dengan lengkap.

Saya secara pribadi berterima kasih kepada KSB ULM atas kepercayaannya dan kerjasamanya membawa saya menjadi bagian dari proses kreatif ini. Ruang semacam ini menjadi laboratorium pengetahuan bagi saya terhadap teater dan segala kompleksitasnya. Semoga ruang semacam ini akan selalu ada, saling bertumbuh merayakan keragaman dan proses kreatif tanpa harus ada label terbaik dan tak baik. Karena semua proses akan menemukan ruangnya, menemukan kebaikan demi kebaikan.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here