Sel. Jan 19th, 2021

Wabup Batola Kunjungi Anak Pengidap Celebral Palsy

2 min read

KabarKalimantan, Marabahan – Senyum sumringah menghiasi wajah Munawarah (12). Anak penderita kelumpuhan otak (Celebral Palsy) di Desa Tabatan RT 02 Kecamatan Kuripan ini terlihat bahagia saat mengetahui dirinya mendapat kunjungan Wakil Bupati Barito Kuala (Batola) H Rahmadian Noor, Rabu (6/01/2021).

Di kesempatan kunjungan ini, wabup menyerahkan bantuan sebesar Rp10 juta ditambah bantuan dari Dinas Kesehatan serta paket sembako dari Dandim.

“Kunjungan kami ini untuk mengetahui kondisi anak, sekaligus memberikan bantuan keperluannya sehari-hari. Nantinya kita minta dokter spesialis anak meninjau langsung dan diupayakan penanganan selanjutnya,” papar Rahmadian Noor.

Anak dari pasangan M Arbain dan Kana ini mengidap kelumpuhan sejak berusia sembilan bulan. Mengingat saat itu Munawarah sudah tak mampu menggerakkan anggota badan seperti normalnya.

“Gejala awalnya demam tinggi yang mengarah ke meningitis, yaitu infeksi pada selaput otak yang mengakibatkan komplikasi dan berakibat Celebral Palsy,” papar Aprija Nazzai, dokter Puskesmas Kuripan.

Aprija menjelaskan, infeksi selaput otak jarang adanya, namun jika terjadi dapat bersifat fatal. Apalagi jika terlambat ditangani.

Sementara itu, ayah Munawarah, Arbain menerangkan, anaknya itu sempat diberi perawatan di RSUD Ulin Banjarmasin, namun keadaannya tidak mengalami perubahan signifikan.

Hingga kini Mona (panggilan Munawarah) masih tergeletak di kasur tipis beralas sarung di rumahnya. Kendati untuk berinteraksi dengan bahasa isyarat masih cukup baik, seperti mengangguk dan tersenyum.

Kedatangan Wabup Rahmadi bersama rombongan sendiri dalam rangka turut prihatin dan memberikan bantuan tahap awal. Ke depannya melalui kades setempat diarahkan untuk pengajuan ke Yayasan Peduli Batola yang dibina Bupati Hj Noormiliyani guna mendapatkan tindaklanjut pengobatan.

Tawaran yang disampaikan wabup ini tentu mendapat respon positif dari ayah Mona, Arbain. Terlebih lelaki yang sehari-hari hanya bekerja di perkebunan sawit itu tergolong tidak mencukupi. Sehingga tidak bisa berbuat banyak untuk pengobatan anaknya.

Reporter: Mahmud Shalihin
Editor: Suhaimi Hidayat
Penanggungjawab: M Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.