WALHI Sebar Bibit Pohon di Jembatan Barito

440
Aksi kampanye lingkungan dan bagi-bagi bibit pohon di Jembatan Barito, Minggu (15/10/2017).

KabarKalimantan, Marabahan – Ratusan mahasiswa pegiat lingkungan dan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menggelar aksi kampanye dan membagi-bagikan bibit pohon sirsat, alpukat, dan pete di atas Jembatan Barito, Minggu (15/10/2017).

Mereka membentangkan aneka poster bertuliskan seruan peduli lingkungan. Aksi itu dalam rangkaian peringatan hari lahir WALHI ke-37 dan kampanye internasional keadilan iklim.

Direktur Eksekutif WALHI Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan bencana asap pada 2015 lalu mencerminkan model buruk tata kelola sumber daya alam, lahan, dan hutan. Menurut dia, pemberian konsesi skala besar perkebunan sawit, konsesi hutan tanaman industri, pertambangan, dan HPH tanpa mempertimbangkan laju penggundulan hutan di Kalimantan.

Kisworo prihatin melihat masih ada bencana ekologis seperti longsornya lubang tambang, banjir, dan kebakaran lahan. Selainn itu, kata dia, konflik agraria antara perusahaan dan masyarakat makin menambah panjang daftar carut marutnya tata kelola SDA.

Baca Juga :   DPRD Balangan Sempurnakan Raperda Adat Dayak

“50 persen dari 3,75 juta hectare luas Kalimantan Selatansudah dikuasai pertambangan dan perkebunan sawit. Seluas 1.242.739 hektare atau 33 persen dibebani izin tambang dan 618.791 hektare atau 17 persen telah dibebani perkebunan sawit. Kalsel sedang darurat agrarian atau darurat ruang,” kata Kisworo di sela kampanye lingkungan.

Sadar atas situasi itu, Kisworo lantang menyuarakan,”Akui wilayah kelola adat, stop deforestasi, stop asap, stop monopoli tanah, selamatkan lahan untuk pangan, bentuk pengadilan lingkungan, dan cabut izin perusahaan perusak lingkungan.”

Adapun Direktur WALHI Kalimantan Tengah, Dimas N. Hartono, mendesak pemerintah segera menata ulang kebijakan investasi yang lebih memihak masyarakat lokal. Sebab, kata dia, ada ketimpangan ekonomi dan sosial setelah 80 persen dari 15,3 juta hektare luas Kalimantan Tengah dikuasai investasi perkebunan, pertambangan, dan kehutanan.

“Telah terjadi ketimpangan yang dikuasai monopoli investasi. Kalimantan khususnya, telah terjadi darurat ekologi. Banyak investasi itu untuk kebutuhan asing dan luar negeri,” kata Dimas.

Baca Juga :   Masyarakat Kalsel Serukan Penyelamatan Pegunungan Meratus

Dimas mengklaim keberadaan korporasi kakap tambang dan kebun sawit bukan jaminan meningkatkan kesejahteraan warga lokal. “Kalaupun ada warga lokal dipekerjakan, paling sebatas buruh lepas,” tegasnya.

TIM KABARKALIMANTAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here