Rab. Jul 15th, 2020

Wayang Gung Cilik Sanggar Ading Bastari, Bukti Regenerasi Seni Tradisi Belum Mati

2 min read

KabarKalimantan, Banjarmasin – Wayang Gung boleh jadi sudah jarang bisa disaksikan. Meski demikian, regenerasinya tidak perlu diragukan. Anak-anak Sanggar Ading Bastari dari Barikin, Hulu Sungai Tengah (HST) sudah bisa memainkannya.

Generasi terbaru Sanggar Ading Bastari itu tampil dalam gelaran Karasmin Banua Saribu Sungai di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin akhir pekan lalu. Wayang Gung dengan lakon Anuman Duta dimainkan di atas panggung Bakhtiar Sanderta.

Selama hampir dua jam, Wayang Gung Anak memukau penonton. Karakter Wayang Banjar yang kental hadir lewat gerakan Igal Wayang dari tubuh kecil generasi termuda Barikin.

Setiap karakter tampak tegas perbedaannya. Rahwana yang ganas, juga Rama yang lembut bersahaja.

Demikian juga dangan sindennya. Seperti pertunjukan Wayang Gung pada umumnya, pelakon harus mahir melantunkannya.

Bagi anak-anak di Barikin, khususnya yang bergabung di Sanggar Ading Bastari, memainkan kesenian tradisional sepertinya bukan perkara sulit. Mereka sudah dekat dengan kegiatan itu sejak usia dini.

Baca Juga :   Juriat Barikin dari Sanggar Ading Bastari Meriahkan Malam Seni Budaya Banua

Surya Sayendra contohnya. Ia yang memerankan karakter Dasamuka atau Rahwana. Usianya baru 14 tahun. Duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk penapilan tersebut, ia mengaku hanya perlu persiapan kurang dari satu bulan.

Wajar saja, kesenian tradisional sudah mengisi keseharian mereka dari usia dini. “Sejak Taman Kanak-kanak (TK) sudah mulai mencoba alat musik gamelan,” katanya.

Dari situ rupanya mereka akrab dengan musik-musik gamelan Banjar. Dengan demikian, untuk menari dan bersyair tentu tidak sulit lagi.

“Sebelum main Wayang Gung, kami latihan menari dengan Kuda Gipang,” ujar Surya lagi.

Tidak ada motivasi khusus bagi Sayendra untuk ikut berkesenian. Barikin sudah turun temurun melahirkan seniman tradisi. Ia hanya sadar, melanjutkan regenerasi perawat seni tradisi adalah kewajibannya.

“Membanggakan sanggar dan menjadi penerus,” ucapnya.

Reporter : M Ali Nafiah Noor
Editor : Suhaimi Hidayat
Penanggungjawab : M Ridha

Baca Juga :   Festival Teater Komedi Si Palui VI Angkat Tema Politik dan Demokrasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.