Wayang Topeng dari Rimba Muning

277

KabarKalimantan, Banjarmasin – Kalimantan Selatan rupanya masih menyimpan segudang jenis seni pertunjukan rakyat. Kurang eksis di kota, mereka kerap melahap panggung hiburan rakyat di pelosok-pelosok.

Salah satu di antaranya adalah Wayang Topeng. Sama dengan wayang gung, wayang topeng juga memainkan kisah yang diambil dari epos Mahabhrata dan Ramayana. Sesuai namanya, teater rakyat ini menggunakan topeng sesuai karakter yang dimainkan.

Satu-satunya grup yang memainkan jenis pertunjukkan ini ialah grup Rimba Muning dari Tapin. Mereka mendapat kesempatan tampil di Taman Budaya Kalimantan Selatan dalam kegiatan revitalisasi Taman Budaya oleh Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (7/11) malam.

Di antara seni instalasi yang dipajang di halaman Taman Budaya Kalsel, Grup Rimba Muning menyuguhkan lakon Anggada Balik yang diambil dari kisah Ramayana. Semua mata tertuju ke atas Panggung Bachtiar Sanderta.

Baca Juga :   JT Junior Persembahkan Madihin Kolosal di 100 Hari Almarhum John Tralala

Jenis kesenian ini memang masih belum terlalu umum. Kepala Taman Budaya Kalsel Suharyanti mengatakan, keunikan Wayang Topeng harus dimunculkan.

“Saya melihat topengnya tidak seperti pada topeng klasik yang diambil dari karakter dalam cerita panji. Ini bisa lebih orisinil karena beda dengan topeng klasik yang banyak kemiripan dengan Jawa,” katanya.

Wayang Topeng rupanya adalah perkawinan dari sejumlah kesenian lainnya. Pimpinan Grup Rimba Muning, Dalang Janderi mengaku, dirinya lah yang mencetuskan wayang topeng.

Dalang Janderi terinspirasi oleh kesenian bapantulan yang juga mengenakan topeng. Dirinya juga mahir dalam memahat aneka kerajinan dari kayu. Ia pun mulai membuat topeng dari karakter wayang. Berhubung, darah seni juga mengalir dari orangtuanya.

“Abah saya dulu adalah pemain wayang gung. Meskipun bukan dalang, banyak juga dalang yang belajar dengan dia,” ungkap Dalang Janderi.

Orangtua Dalang Janderi yang bernama Saderi itu pula yang ternyata mengajarkan pada semua pemain senior rimba muning menarikan Igal Wayang. Pada 1990, berdirilah Grup Rimba Muning di Desa Lawahan, Tapin. Grup ini pun mempopulerkan jenis pertunjukan Wayang Topeng.

Baca Juga :   Penggantungan Demang Lehman Dipentaskan di Balai Kota pada Hari Kemerdekaan

“Mulai 1995, banyak yang mengundang kami tampil sebagai hiburan,” katanya.

Wayang Topeng ternyata diterima masyarakat. Setiap bulan tak jarang mereka kebanjiran tawaran manggung. Bahkan, Wayang Topeng sudah pernah sampai ke provinsi tetangga, tepatnya di Kalimantan Timur.

Menurut Dalang Janderi, punya bakat seperti yang ia miliki adalah keberuntungan luar biasa. Ia menganggap itu merupakan restu Yang Maha Kuasa. Sebab, sama halnya kesenian wayang kulit, kisah-kisah yang disampaikan harus mengandung unsur syiar-syiar agama.

Soal pesan yang mereka sampaikan lewat lakon Anggada Balik itu, Dalang Janderi mengungkapkan, setiap orang harus terus berhati-hati dan menjaga iman. Sebab, seperti dalam kisah tersebut, orang baik ditipu orang jahat untuk dipecah belah.

Dalang Janderi yang sudah memasuki usia 53 punya semangat besar untuk mewariskan kesenian tersebut pada anak cucunya. Sedikitnya ada empat atau lebih pemain Wayang Topeng cilik yang ia bawa dalam kesempatan tersebut. Mereka tampak lincah menggerakkan tarian-tarian dalam karakternya. “Itu anak dan cucu saya,” katanya.

Baca Juga :   Proyek Film Antasari Rp 2,9 Miliar, Sahbirin Noor: Kecil

Sayang, cerita Anggada Balik yang mereka mainkan tak bisa disuguhkan utuh. Singkatnya waktu membuat pemain harus memangkas kisah tersebut.

Seperti kesenian rakyat lainnya, Wayang Topeng biasanya disuguhkan semalam suntuk di sebuah arena dengan penonton yang menggerumbung tanpa jarak.

M Ali Nafiah Noor

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here