Yayasan Palatar Obrolkan Seni dan Pers

1454

KabarKalimantan, Banjarbaru – Yayasan Palatar membuka program obrolan seni budaya mereka. Dengan tajuk “Basurah 1.0,” hubungan seni dengan pers dibicarakan.

Kegiatan berlangsung di Anjungan Saidah dan Adinda Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru pada Rabu (20/2/2019) malam. Kritikus seni Novyandi Saputra, Jurnalis Sandi Firly, dan Akademisi Seni Sumasno Hadi menjadi pemantik diskusi yang mereka sebut “panyurah”.

Novyandi Saputra mengemukakan pembahasan tentang ruang kritik seni pada media massa, apakah diterima atau diabaikan? Padahal menurut founder NSA Project Movement itu, kritik seni pada media massa hadir untuk memberikan nafas yang lebih panjang bagi setiap karya seni yang dilahirkan.

“Menjadi kritikus seni seperti dibiaskan oleh banyak orang. Kritik seperti selalu diartikan dalam konteks negative. Padahal kritik hadir untuk memberikan dokumentasi yang bersifat lebih membongkar karya seni dalam wilayah estetik-artistik,” katanya.

Baca Juga :   Caronong Samudera di Gedung Sultan Suriansyah

Selain itu menurut Nono, sapaan akrab Novyandi S, seniman yang menerima kritik juga jarang melakukan diskusi dengan kritikus. Baik berupa balasan tulisan ataupun bertemu langsung untuk karya dan tulisan kritik mampu saling mengisi sebagai sebuah pengetahuan.

Sementara itu, Sandi Firly memaparkan tentang keberadaan pers di Kalimantan Selatan. Ia menilai, baik media cetak atau online, masih kekurangan wartawan serta ruang khusus untuk pembahasan khusus soal seni dan budaya.

Sandi mengungkapkan, berita seni masih dinilai sebagian wartawan kalah gengsi dengan berita seperti kriminal atau korupsi. “Kegiatan seni jarang sekali dipublikasikan di media massa, kalaupun dipublikasikan hanya sebatas informasi bukan analisis” ujarnya.

Sumasno Hadi menambahkan, pers sebagai media massa dapat menjembatani karya seni kepada publik. Ini berkaitan dengan konteks karya seni yang merupakan subjektivitas seniman. Teks yang dihadirkan seniman berupa makna-makna dan simbol-simbol cenderung sulit dipahami masyarakat umum.

Baca Juga :   Mengenang Sang Bohemian Gt Sholihin Hasan

“Kritikus lah yang berperan untuk membuat karya seni itu menjadi terang,” kata Sumasno.

Manejer Program Basurah Yayasan Program Ega Wardani menyimpulkan, yang didapat pada diskusi tersebut antara lain adalah perlunya pembenahan ekosistem seni yang berkelanjutan. Salah satunya adalah berita seni (kritik, review, pamer karya) berada pada posisi yang kuat dalam sebuah media massa.

“Karya-karya seni kemudian mampu berada pada nilai tukar yang baik dengan adanya pemberitaan tersebut. Kritikus-kritikus pertunjukan bukan sekedar menulis reportase pertunjukan, namun lebih pada membuat sebuah karya seni mampu difahami dengan lebih terang oleh para apresiatornya. Maraknya media digital dan media social menjadi salah satu ruang alternative baru untuk memuat berita seni di era sekarang ini,” katanya.

Ega menjelaskan, Program Basurah merupakan ruang terbuka untuk bertukar pikiran dan mengemukakan pendapat. Manfaatnya adalah untuk menciptakan sebuah ruang dialektika yang sehat.

Baca Juga :   Wayang Kulit Banjar Masuk Kampus ULM

“Dengan acara yang dikemas secara ringan dan juga santai setiap orang dapat mengutarakan apa yang menjadi pemikirannya. Basurah bukan hanya sebagai ruang diskusi yang membahas isu-isu kebudayaan namun juga bedah buku, bedah karya hingga orasi budaya,” ujar mahasiswi semester akhir FKIP ULM tersebut.

M Ali Nafiah Noor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here