KabarKalimantan, Kotabaru – Keteladanan luar biasa lahir dari Desa Sarang Tiung, Kecamatan Pulau Laut Sigam. Sepasang suami istri dermawan, dengan penuh keikhlasan, menghibahkan tanah pribadi mereka untuk kepentingan masyarakat.
Tanah tersebut kini dibuka menjadi jalan tani, sekaligus jalur penunjang pengembangan wisata lokal.
Tak hanya itu, di atas lahan hibah tersebut juga dibangun dua waduk yang berfungsi vital, menjamin ketersediaan air bersih warga dan menjadi cadangan strategis saat musim kemarau.
Yang membuat masyarakat semakin terharu, seluruh biaya pengerjaan jalan dan pembangunan waduk ditanggung sepenuhnya oleh pemilik lahan.
Proses pengerjaan masih berlangsung dibantu warga setempat secara suka rela, bukti mencerminkan semangat gotong royong warga yang hidup di desa.
Pemilik lahan Sake menyampaikan alasannya membuat akses jalan menuju ke tempat wisata Gunung Mamake terinspirasi ketika lebaran Idul Fitri yang ketiga hari pihaknya melihat betapa padatnya dan antrian lumayan panjang ketika mau ke wisata Gunung Mamake.
“Sehingga saya kepikiran untuk membuatkan akses menuju wisata Gunung Mamake, apalagi dari lahan kami jaraknya kurang lebih 300 meter saja menuju wisata tersebut, sebelum pembuatan jalan kami melakukan koordinasi dengan pihak desa dan pokdarwis Gunung Mamake, alhamdulillah disetujui,” ucap Sake.
“Tanah ini titipan. Kalau bisa dipakai untuk memudahkan rezeki petani, mengalirkan air bersih, dan membuka pintu wisata bagi kampung kita, kenapa tidak? Saya hanya ingin melihat anak-cucu kita ke depan lebih mudah hidupnya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk mencari pujian, untuk kepentingan masyarakat.
“Biar jalan ini jadi amal. Yang penting petani tidak lagi pikul hasil kebun berkilo-kilometer, dan saat kemarau warga tidak kesulitan air. Kalau nanti wisata hidup, ekonomi warga juga ikut terangkat,” tambahnya.
Ketua RT 01 desa Sarang Tiung M. Said menyampaikan rasa bangga dan haru atas ketulusan tersebut. “Tidak semua orang rela mengorbankan tanah pribadi demi kepentingan umum. Kami sangat menghormati beliau. Langkah ini benar-benar menginspirasi,” ungkapnya.
Aksi ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak, memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tingkat desa.
Aksi Sake dan keluarga membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu menunggu program besar pemerintah. Inisiatif dari hati, dibalut keikhlasan, mampu menggerakkan perubahan nyata. Jalan tani yang terbuka, waduk yang menampung harapan, dan akses wisata yang mulai dirintis adalah “warisan sosial” yang nilainya jauh melampaui nominal.
Kini, warga RT 01 Desa Sarang Tiung menatap masa depan dengan optimisme baru, bahwa kebaikan yang ditanam hari ini akan dituai sebagai kesejahteraan yang panjang.












