KabarKalimantan, Banjarbaru – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM) bersama warga RT 02, Kelurahan Landasan Ulin Selatan membuat inovasi dengan memanfaatkan kulit kayu galam menjadi insektisida alami dan lilin aromaterapi anti-lalat.
Kegiatan yang diketuai tim pelaksana M Awaluddin Padjrin didampingi dosen Najwi Hasani dan Muhammad Norhidayat serta mahasiswa Biyu Pangestu, Sabila Maulydia, Fatimah, dan Naufal Firjatullah tersebut dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pada 11 dan 19 Juli 2026.
Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Landasan Ulin Selatan melalui Inovasi Insektisida dan Lilin Aromaterapi Berbasis Kulit Kayu Galam” itu terlaksana berkat dana Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Ketua Tim Pelaksana M Awaluddin Padjrin mengungkapkan, pada tahap pertama, warga mendapat edukasi mengenai dampak lalat terhadap kesehatan dan lingkungan, pengenalan potensi kulit kayu galam sebagai bahan alam lokal, serta praktik ekstraksi sederhana dengan metode maserasi.
“Selain itu, warga juga mendapat penguatan mengenai pengelolaan sampah, penutupan makanan, pembersihan saluran air, dan sanitasi lingkungan,” ujar Awaluddin.

Kemudian, program berlanjut pada tahap kedua. Di tahap kedua ini, lanjut Awaluddin, program yang pihaknya jalankan difokuskan pada pelatihan formulasi prototipe insektisida semprot dan lilin aromaterapi.
“Kami memadukan ekstrak kulit galam dengan bahan pendukung, antara lain minyak serai wangi, kayu putih, cengkeh, dan lemon. Nah, dalam praktik ini, peserta mengikuti proses formulasi sekaligus melakukan evaluasi sederhana terhadap bentuk, aroma, kestabilan, waktu bakar, dan residu produk,” jelasnya.
Awaluddin Padjrin menerangkan, kegiatan tersebut dirancang untuk menghubungkan edukasi kesehatan lingkungan dengan pemanfaatan potensi lokal yang bernilai tambah.
“Kami ingin masyarakat melihat kulit kayu galam yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, mampu diolah sebagai bahan lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan. Prosesnya dimulai dari edukasi sanitasi, ekstraksi, formulasi, hingga pembekalan perhitungan biaya dan pemasaran,” ujar Awaluddin.

Selain praktik pembuatan produk, warga juga dibekali pengetahuan dasar mengenai pengemasan, pelabelan, penentuan harga jual, pemasaran luring dan daring, pelayanan pelanggan, pencatatan keuangan, serta kerja sama kelompok.
“Ya, karena pengembangan produk tetap memerlukan pengujian dan pemenuhan perizinan sebelum dapat dipasarkan,” ucapnya.
Sementara hasil evaluasi kegiatan, lanjut Awaluddin, menunjukkan pengetahuan peserta meningkat setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. “Peserta juga memberikan tanggapan sangat positif serta menyatakan sangat puas terhadap pelaksanaan kegiatan,” imbuhnya

Pun demikian, Awaluddin menegaskan produk yang dibuat masih berupa prototipe. Oleh karena itu, produk belum dapat diklaim efektif, aman, atau siap dipasarkan sebelum melalui pengujian aktivitas anti-lalat, stabilitas, keamanan penggunaan, mutu, dan ketentuan regulasi.
Melalui hibah pengabdian tersebut, UMBJM berharap inovasi kulit kayu galam dapat memperkuat kesadaran warga terhadap kesehatan lingkungan sekaligus membuka peluang pengembangan produk berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.[]












